PWMU.CO - 05/11/2020 14:15
ALBUM PERJUANGAN
Pertempuran dua hari,
mobil Brigadir Jendral Mallaby terbakar.
Jenderal Mallaby ditembak mati
arek kampung Ampel dalam insiden baku tembak di Jembatan Merah. Perkara ini
yang memicu perang 10 November 1945.
PWMU.CO-Pertempuran
dua hari, 28-30 Oktober di Surabaya menjadi pemicu perang 10
November 1945 yang lebih dahsyat. Dalam
pertempuran ini Brigjen Aubertin Walter Sothern Mallaby, Komandan Brigade 49,
tewas dalam baku tembak itu pada 30 Oktober 1945. Mobil buick yang
ditumpanginya juga terbakar.
Tentara Inggris datang ke
Surabaya untuk mengatur peralihan kekuasaan dari Jepang kepada Sekutu sekaligus
mengurus tawanan perang dan melucuti senjatanya. Ini sesuai Perjanjian Yalta
yang diadakan oleh negara pemenang Perang Dunia II yaitu AS, Inggris dan Uni
Sovyet.
Sekutu tidak mengakui Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karena itu Sekutu berencana
menyerahkan Indonesia kepada Belanda melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang
diakui sebagai penguasa sebelum Jepang.
Brigadir Jenderal Mallaby dan
pasukannya berkekuatan 6.000 tentara India mendarat di Surabaya pada 25 Oktober
1945 untuk melaksakan tugas itu. Kapal perang yang mengangkut pasukan ini HMS
Waveney, HMS Malika, dan HMS Assidious juga menurunkan tank, panser, meriam, di
Pelabuhan Tanjung Perak.
Pada 27 Oktober 1945, Sekutu
menyebarkan selebaran dari udara lewat pesawat Dakota. Isinya ancaman kepada
warga kota. Persons
beeing arms and refusing to deliver them to the Allied Forces are liable to be
shot. Artinya, orang yang mengangkat senjata dan menolak untuk
mengirimkannya ke Pasukan Sekutu dapat ditembak.
Selebaran itu ditandatangani
Panglima Divisi Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn. Suasana memanas. Pasukan
rakyat menghitung-hitung kekuatan. Keputusannya hanya satu kata lawan.
Perlawanan dengan perang gerilya dikoordinasi Komandan Divisi Surabaya, Mayor
Jenderal Yonosewoyo.
Gencatan
Senjata
Suasana kota memanas. Bung
Tomo yang mendirikan siaran Radio
Pemberontak sejak 16 Oktober mengobarkan semangat perang pantang menyerah.
Terjadilah pertempuran sengit di beberapa sudut kota antara dua pasukan mulai
28 Oktober.
Tentara Inggris terdesak. Lalu Panglima Divisi Jenderal Hawthorn menghubungi pimpinan di Jakarta untuk mengadakan gencatan senjata.
Pada 29 Oktober, terbanglah
Presiden Sukarno, Wapres Mohammad Hatta, dan Menteri Penerangan Amir
Syarifuddin ke Surabaya. Lewat mobil Jeep, tiga pimpinan ini ditemani perwira
Inggris berkeliling kota meminta perlawanan dihentikan.
”Ini Presiden Republik Indonesia,
Sukarno, memerintahkan berhenti, supaya jangan dilanjutkan pertempuran itu,”
kata Bung
Karno lewat pengeras suara. Gencatan senjata berhasil dicapai.
Pertempuran berhenti.
Soemarsono, Ketua Pemuda Republik
Indonesia (PRI) bersama anak buahnya mendekati mobil yang ditumpangi Bung
Karno. Bung Karno turun dari mobil.
”Bung, kenapa pertempuran kita hentikan? Inggris sebentar lagi akan kita
kalahkan,” kata Soemarsono seperti ditulis Hersutejo dalam buku Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat
Surabaya 1945 yang Dilupakan.
Soemarsono menceritakan,
pertempuran dua hari dia bersama pasukannya sudah bisa mendesak pasukan Inggris
di daerah Wonocolo. Menurut dia, sehari lagi pertempuran, pasukan kita bisa
mengalahkan tentara asing itu.
Bung Karno meminta Menpen Amir Sjarifuddin keluar mobil. Soemarsono kenal Amir
yang sama-sama aktivis Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). ”Hal ini sudah
didiskusikan dengan kawan-kawan di Jakarta. We have to win the war, not the battle,” ujar
Amir menjelaskan.
Pasukan ini lalu mengiringi Bung Karno menuju RRI Surabaya untuk menyerukan
seluruh rakyat Surabaya menghentikan perang. Republik tak memusuhi Sekutu yang
datang untuk melucuti militer Jepang yang kalah perang.
Terbunuhnya Mallaby
Perundingan gencatan senjata
dilanjutkan pada 30 Oktober. Menurut historia.id, petang
hari Brigadir Jenderal Mallaby naik mobil buick ditemani perwiranya menuju
Gedung Internatio Jembatan Merah dari Gedung Lindeteves (Sekrang Gedung Bank
Mandiri Jl. Pahlawan).
Tujuannya memberikan penjelasan
gencatan senjata antara dua kubu. Di situ juga ada anggota Biro Kontak
Indonesia dan pemimpin Surabaya, seperti Residen Soedirman dan Ketua Komite
Nasional Indonesia Daerah (KNID) Doel Arnowo. Gedung Internatio saat itu
menjadi markas pasukan Sekutu.
Mallaby belum turun dari mobil
terjadi keributan di luar gedung. Pemuda Indonesia menghendaki perunding
Inggris diwakili perwira muda Kapten Shaw. Suasana makin panas ketika sebuah
granat dilemparkan dari dalam gedung.
Pemuda membalas dengan tembakan
ke arah gedung. Baku tembak pun terjadi. Seorang pemuda bernama Abdul Azis,
arek kampung Ampel, mendatangi mobil Mallaby. Dia arahkan pistolnya kepada
Mallaby dan dua perwira Inggris. Meletus tembakan beberapa kali.
Setelah itu Abdul Azis
mendatangi Doel Arnowo. ”Wis
Cak. Wis tak beresno! (Sudah Cak, sudah saya bereskan),” kata Abdul
Azis seperti diceritakan anak angkatnya, M. Chotib.
”Apane diberesno? (Apanya yang dibereskan?),” tanya Doel Arnowo.
”Sing iku (yang
itu),” jawab Abdul Azis sambil menuding mobil Mallaby.
”Ngawur ae koen. (Ngawur saja kamu),” sergah
Doel Arnowo.
Doel Arnowo meminta Abdul Azis
tutup mulut. Setelah itu penembak Mallaby dikatakan menjadi misteri. Namun
kematian Mallaby bagi Inggris menyakitkan. Insiden itu menjadi alasan untuk
menggempur Kota Surabaya sebagai balas dendam dalam perang 10 November. (*)
Penulis/Editor Sugeng Purwanto

