Rabu, 08 November 2023

Sosok Abdul Aziz Endog, Penembak Jenderal A.W.S. Mallaby yang Memicu Peristiwa 10 November 1945

 

ALBUM PERJUANGAN

HARIAN DISWAY

Reporter: Muhammad Fachrizal Hamdani|

Editor: Heti Palestina Yunani|

Rabu 08-11-2023,18:12 WI

Foto Brigadir (Jenderal) Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby. A.W.S. Mallaby diduga kuat tewas akibat tembakan dari Abdul Aziz pada 30 Oktober 1945 di depan Gedung Internatio. -Boombastis-

HARIAN DISWAY-Pasukan Inggris mengakui bahwa peristiwa 10 November 1945 menjadi pertempuran terberat pasca-Perang Dunia II.

Pasalnya, pertempuran ini mengakibatkan dua jenderalnya tewas Brigadir (Jenderal) Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby dan Robert Guy Loder-Symonds beserta sekitar 600-2.000 tentara dari pihak Inggris.

Penyebab utama pertempuran 10 November 1945 itu memang tewasnya Mallaby. Pada saat itu, Mallaby hendak mengumumkan kabar gencatan senjata kepada masyarakat Surabaya pada 30 Oktober 1945.

Pengumuman gencatan senjata itu muncul sebagai bentuk kesepakatan untuk menghentikan pertempuran singkat yang terjadi pada 27-29 Oktober 1945.

Pertempuran itu terjadi ketika pasukan Inggris mendarat di Surabaya lalu mendirikan pos pertahanannya disertai dengan sebaran pamflet Inggris yang mengancam akanmenguasaisemua kota besar di Jawa termasuk Surabaya.

Saat hendak menyampaikan pengumuman gencatan senjata, Mallaby -yang menaiki mobil- terjebak di depan Gedung Internatio akibat kerumunan massa.

Pada saat itulah ada seseorang yang melempari granatdanmenembaknyahingga membuat Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945 waktu malam hari.

Hingga saat ini, pelaku yang menewaskan Mallaby masih misterius. Terdapat beberapa versi yang muncul terkait pelaku penembakan. Salah satu versi terkuat mengarah pada sosok H. Abdul Aziz.

Siapa Abdul Aziz?

Foto Abdul Aziz (kiri) bersama Jenderal (Purn) Abdul Haris Nasution (kanan). -Koleksi Pribadi Keluarga Abdul Azis-Historia.id

Namun pada intinya, Abdul Aziz berkumpul dengan orang-orang besar asli Surabaya, seperti Doel Arnowo, Achijat Alap-Alap, dan Wirontono.

Jika benar terlibat dalam peristiwa penembakan Mallaby, Abdul Aziz saat itu masih berusia muda. Diperkirakan sekitar 16-17 tahun.


Detik-Detik Penembakan A.W.S. Mallaby

Kejadian berawal ketika Mallaby hendak mengumumkan kabar gencatan senjata pada 30 Oktober 1945 waktu petang hari dengan menggunakan mobil. Kondisi pada saat itu sangat ricuh antara pihak Indonesia terutama masyarakat Surabaya dan pihak Inggris.

Mallaby bersama rombongan Biro Kontak Indonesia dan para pemimpin Surabaya merapat ke Gedung Internatio untuk mengumukan gencatan senjata.

Mobil yang ditumpangi A.W.S. Mallaby rusak akibat granat dan tembakan yang menewaskan A.W.S. Mallaby di depan Gedung Internatio pada 30 Oktober 1945. -IST-Sindonews

Ketika para rombongan masuk ke dalam gedung, Mallaby masih berada di dalam mobil karena para pemuda Indonesia ingin perundingan dari pihak Inggris diwakili oleh perwira muda.

Secara tiba-tiba, lemparan granat muncul dari dalam Gedung Internatio hingga merusak mobilnya. Tidak lama kemudian, seorang pemuda Indonesia -diduga Abdul Aziz- datang mendekati jendela mobil, lalu menembaki Mallaby dengan senapan.

“Butuh waktu 15 detik hingga setengah menit bagi Brigadir untuk benar-benar tewas,” menurut Kapten RC Smith yang dikutip dari JGA Parrot dalam Who Killed Brigadier Mallaby, dimuat dalam Jurnal Indonesia 20 Oktober 1975.

Setelah itu, Abdul Aziz melapor ke Cak Doel Arnowo, “Wes Cak. Wes tak beresno! (Sudah cak, sudah saya bereskan!” ucap Chotibsaat menirukan cerita ayahnya. 

Apane diberesno? Sing iku (Mallaby)? Ngawur ae kon! (Apanya yang dibereskan? Yang itu (Mallaby)? Ngawur saja kamu!),” lanjut Chotib, dilansir dari Historia.id.

Pendukung Versi Abdul Aziz

Versi Abdul Aziz sebagai pelaku penembakan berawal dari tulisan Amak Altuwy dalam koran Surabaya Post yang berjudul Kesaksian Saya Mengenai Terbunuhnya Brigadir Mallaby terbitan 10 November 1982.

Amak Altuwy menyatakan dalam tulisan di harian sore di Jawa Timur itu bahwa pelaku penembakan Mallaby adalah Abdul Aziz. 

Pernyataan tersebut diperkuat oleh anaknya Abdul Aziz, yaitu Muhammad Chotib. Dilansir dari Historia.id, Chotib yakin bahwa ayahnyalah yang menembak Mallaby dengan pistol.

Selain itu, pendiri komunitas Roode Brug Soerabaia Ady Erlianto Setyawan juga turut mendukung versi ini. “Klaim (Abdul Aziz, Red) itu relatif kuat”, ucap pegiat sejarah lokal tersebut. (*)

Sumber: https://harian.disway.id/read/740747/sosok-abdul-aziz-endog-penembak-jenderal-aws-mallaby-yang-memicu-peristiwa-10-november-1945


Senin, 30 Oktober 2023

Putra Doel Arnowo: Bapak Pasti Tahu Penembak Jenderal Mallaby di Surabaya, tapi Beliau Diam Sampai Akhir Hayat

Putra pejuang perang Surabaya 45 Doel Arnowo, Agus Djafad Husni Arnowo, 80 tahun, yakin ayahnya mengetahui penembak Brigjen Mallaby.78 tahun lalu.

TEMPO.CO

30 Oktober 2023 | 14.58 WIB

Agus Djafad Husni Arnowo, putra tokoh pejuang Perang Surabaya 45 Doel Arnowo. TEMPO/Kukuh S. Wibowo

TEMPO.COSurabaya - Putra pejuang perang Surabaya 45 Doel Arnowo, Agus Djafad Husni Arnowo, 80 tahun, yakin ayahnya mengetahui siapa penembak komandan Brigade-49 Inggris, Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby di Jembatan Merah pada 30 Oktober 1945.

Hari ini, 30 Oktober 2023, tepat 78 tahun lalu 
Jenderal Mallaby tewas. Kematian Mallaby menyulut meletusnya perang Surabaya sepanjang Nopember 1945. Sebanyak 20 ribu pejuang dan rakyat diperkirakan gugur dalam perang kota yang diakui sebagai salah satu yang terbesar di dunia itu.

Namun hingga meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo Surabaya pada 18 Januari 1985, Doel Arnowo tidak pernah menyebutkan siapa sebenarnya sosok penembak Mallaby.

“Kepada putra-putranya, Bapak juga tak pernah cerita siapa orang yang menembak Mallaby. Beliau diam sampai wafatnya,” kata Agus saat ditemui Tempo di rumahnya, Jalan Tanggulangin, Surabaya, Rabu lalu, 25 Oktober 2023.

Menurut Agus, di masa-masa perang Surabaya, ayahnya adalah sosok yang disegani oleh para pejuang. Secara de-facto, kata Agus, penguasa Surabaya saat itu memang Gubernur Soerjo dan Residen Soedirman. “Tapi yang berhubungan dengan para pejuang dibawah, termasuk para anggota laskar, ya, Bapak, karena beliau kan sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Karesidenan Surabaya,” kata Agus.

Agus menuturkan, Doel Arnowo pernah bercerita bahwa saking segannya para pemuda pejuang terhadap dia, sampai-sampai mau beli es dawet saja mereka meminta izin. Sikap segan kaum pejuang pada ayahnya, tutur Agus, bukan karena Doel Arnowo sosok menakutkan dan punya kuasa.

“Tapi saya kira karena Bapak sudah terjun di dunia politik cukup lama, beliau ikut PNI di awal-awal pendirian partai tersebut. Dengan Bung Karno Bapak berteman sejak tahun 20-an,” kata Agus.

Ketika perundingan antara Indonesia dan Inggris digelar di Kantor Gubernur Jawa Timur pada 30 Oktober 1945, di mana salah satu poin kesepakatannya ialah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) serta para pejuang wajib berseragam, yang memerintahkan membuka gudang pakaian di Surabaya utara juga Doel Arnowo.

Gudang pakaian itu, menurut Agus, buat menyimpan seragam militer Belanda dan Jepang yang dirampas oleh para pejuang Indonesia. “Akhirnya seragam-seragam itu dipakai TKR dan pejuang. Memang tak sama semua, tapi kan seragam,” ujar putra keempat dari sebelas bersaudara itu.

Sehingga, kata Agus, tidak mungkin pelaku penembakan terhadap Mallaby ketika itu tidak diketahui oleh ayahnya. Setidaknya yang bersangkutan pasti melapor. Apalagi saat Mallaby terbunuh, Doel Arnowo juga berada di sekitar Gedung Internatio. “Tewasnya Mallaby itu perkara besar, mustahil kalau Bapak tak tahu pelakunya,” kata Agus.

Dalam artikelnya di Surabaya Post edisi Rabu, 6 Nopember 1985, berjudul Siapa Pembunuh Mallaby, Mengapa Dul Arnowo Tidak Bercerita? sejarawan dan sastrawan Suparto Brata menyatakan bahwa  sampai 1973 orang masih bertanya-tanya siapa pembunuh Mallaby.

Para saksi mata yang saat itu masih hidup tentu tahu jawabannya. Tapi mereka bungkam. Tidak bersedia bersaksi secara lisan maupun menuliskannya dalam bentuk artikel testimoni. 

Menurut Suparto Brata, Doel Arnowo baru sedikit mengungkap teka-teki itu dalam artikel Roeslan Abdulgani berjudul Seratus Hari di Surabaya yang Menggemparkan. Artikel tersebut pertama kali muncul di Surabaya Post edisi 25 Oktober- 9 Nopember 1973.

Dalam tulisan itu diceritakan bahwa saat tembak-menembak terjadi, semua anggota Kontak Biro berlarian menyelamatkan diri. Roeslan Abdulgani, Doel Arnowo, Soengkono, Kusnandar, dan dokter Mursito melompat ke Kalimas. Seorang pemuda menyusul meloncat dan berkata pada Doel Arnowo, “Wis beres, Cak (Sudah beres, Kak).”

“Apanya yang sudah beres?” tanya Doel Arnowo.

“Jenderal Inggris-nya. Mobilnya meledak dan terbakar.”

“Siapa yang meledakkan?” Doel Arnowo terkejut.

“Tidak tahu, ada granat yang meledak di dalam mobil, tapi dari pihak kita pun ada yang menembak ke arah mobil tersebut,” kata pemuda itu.

Para pemimpin Indonesia kaget mendengar laporan itu. Lalu berpesan, “Sudah, diam saja. Jangan ceritakan hal ini kepada orang lain!”

Sejak artikel itu dipublikasikan, muncul pengakuan dari setidaknya dua orang sebagai pelaku penembakan pada Mallaby. Yakni seseorang bernama Ook Hendironoto pada 1977 dan Abdul Azis alias Ajis Endhog pada 1985.

Agus yakin pengakuan Abdul Azis maupun Ook Hendironoto sebagai penembak Mallaby telah didengar ayahnya. Namun Doel Arnowo memilih diam saja. “Bapak tak pernah mengomentari, baik membantah maupun mengiyakan. Pernah saya tanya, 'Bapak kok mendel mawon (diam saja)?' Beliau bilang, 'Gawe apa ditanggapi (buat apa ditanggapi), jarna ae (biarkan saja)',” kata Agus Arnowo.

Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (
Unair) Surabaya Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari mengatakan bungkamnya para pelaku sejarah untuk menyimpan rahasia penembak Mallaby karena misi Sekutu mendarat di Surabaya sebenarnya untuk perdamaian.

“Menurut analisis saya, kalau pelaku penembakan atau pembunuhan pada Mallaby itu dibuka, justru mengganggu proses rekonsiliasi. Bisa jadi ada kekhawatiran seperti itu,” kata Ihsan saat dihubungi.

Sumber https://www.tempo.co/politik/putra-doel-arnowo-bapak-pasti-tahu-penembak-jenderal-mallaby-di-surabaya-tapi-beliau-diam-sampai-akhir-hayat-126799

Siapa Penembak Jenderal Mallaby di Surabaya, Benarkah Ajis Endhog dari Ampel?

 

ALBUM PERJUANGAN

Hari ini tepat 78 tahun lalu Jenderal Mallaby tewas di Surabaya. Tempo bertemu anak angkat Ajis Endhog dan putra Doel Arnowo.

30 Oktober 2023 | 06.15 WIB

Jenderal Mallaby. Wikipedia

TEMPO.COSurabaya - Hari ini tepat 78 tahun lalu Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby tewas. Kematian Mallaby menyulut meletusnya perang Surabaya sepanjang Nopember 1945. Sebanyak 20 ribu pejuang dan rakyat diperkirakan gugur dalam perang kota yang diakui sebagai salah satu yang terbesar di dunia itu.

Namun peristiwa itu masih menyisakan tanda tanya, siapa sebenarnya pembunuh Jenderal Mallaby?  Pemerintah pun tidak pernah menyebutkan secara gamblang di diktat-diktat sejarah mengenai sosok pelaku penembakan tersebut.

Osa Kurniawan Ilham dalam bukunya berjudul Laksamana III Atmadji (2023) menuturkan bahwa terbunuhnya Mallaby merupakan buntut dari pendaratan 6.000 pasukan Brigade ke-49 di Tanjung Perak, Surabaya pada 25 Oktober 1945.

Arogansi sebagai pemenang Perang Dunia II membuat Brigade ke-49 merasa leluasa menguasai bangunan-bangunan strategis di Surabaya. Sikap sombong pasukan Sekutu itu memberikan kesan kurang baik di mata rakyat Surabaya.

Sesuai misinya, pasukan Sekutu bertugas mengumpulkan orang-orang Belanda, Indo dan Eropa lainnya yang baru dibebaskan dari interniran. Namun rakyat Surabaya mulai curiga bahwa kedatangan pasukan Sekutu juga disusupi oleh pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA), sehingga aksi kemanusiaan itu dianggap sebagai kedok belaka.

Suasana Surabaya kian memanas ketika rakyat menganggap komandan pasukan Sekutu mengkhianati perjanjian sebelumnya setelah secara sepihak menyebarkan pamflet-pamflet lewat pesawat terbang dari Jakarta. Isi pamflet berupa perintah agar rakyat Surabaya segera menyerahkan senjatanya pada Sekutu.

Imbauan itu justru memicu kemarahan. Rakyat tak sudi menuruti permintaan Sekutu. Pertempuran babak pertama pun pecah. Namun pasukan Sekutu di bawah komando Mallaby lengkap dengan senjata berat ditambah tank kavaleri, nyaris mengalami kehancuran dalam pertempuran sengit 28-30 Oktober 1945 itu.

Pos-pos mereka yang tersebar  dalam kota sudah dikepung rakyat, sebagian di antaranya dibakar dan dihancurkan. Salah satu pos yang dihancurkan ialah di Gedung Radio Simpang. Lapangan terbang Morokrembangan yang semula dikuasai Inggris pun berhasil direbut. Inggris terdesak mundur dan berlindung di dok-dok Pelabuhan.

Inggris khawatir pasukan Sekutu yang baru saja pulang membawa kemenangan dari palagan tempur Perang Dunia II itu akan habis di Surabaya. Mereka mulai mencari pemimpin-pemimpin lokal yang dapat menenangkan emosi rakyat Surabaya. Namun tak ada gambaran.

Harapan terakhir tinggal kepada Presiden Sukarno. Esok harinya, 29 Oktober 1945, Sukarno, Wakil Presiden Moh. Hatta dan Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin diterbangkan ke Surabaya menggunakan pesawat RAF.

Pendaratan pesawat tersebut di Lapangan Terbang Morokrembangan bersamaan dengan hujan peluru pertempuran antara pasukan Inggris melawan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sukarno turun sambil mengacung-acungkan bendera merah putih, sehingga ia dan rombongan selamat dari terjangan peluru.

Mereka dijemput pejuang Indonesia menggunakan mobil tertutup, dibawa melewati jalan berliku-liku dengan nyalak senjata masih terdengar jelas di sana-sini, hingga akhirnya rombongan tiba dengan selamat di kediaman Residen Soedirman di van Sandicstraat (sekarang Jalan Residen Sudirman).

Perundingan dengan pihak Inggris pun digelar. Inggris meminta diadakan gencatan senjata, adapun kelompok pejuang Surabaya menagih janji Mallaby pada 26 Oktober 1945 untuk tidak melucuti senjata mereka. Namun Mallaby enggan menuruti permintaan pejuang itu. Alasannya, sebagai perwira militer, ia wajib patuh pada perintah atasannya.

Perbedaan pendapat itu menyebabkan suasana rapat tegang. Sukarno pun segera mengambil sikap agar dua belah pihak menghentikan tembak menembak. Pernyataan Sukarno itu segera disebarkan ke seantero kota yang sedang mendidih.

Adalah Soemarsono dari laskar Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang tak puas dengan sikap Presiden. Ia, yang kelak terlibat Madiun Affair bersama Amir Sjarifoeddin pada 1948, memberikan kesaksian beberapa tahun kemudian bahwa kemenangan atas Sekutu sejatinya sudah di depan mata. Dalam keyakinan Soemarsono, sebentar lagi Inggris dan sekutunya pasti bertekuk lutut.

Dari medan pertempuran di pinggiran kota, tepatnya di Wonokromo, Soemarsono pun segera melesat ke tengah kota untuk mencari Sukarno. Ia berniat memprotes kebijakan penghentian tembak-menembak tersebut. Kebetulan ia berpapasan dengan iring-iringan konvoi Presiden di Jalan Ngagel. Soemarsono pun langsung menghadangnya.

“Ini kita dalam keadaan unggul kok diberhentikan? Kalau kita kepepet diberhentikan, ya, bagus, tapi kita unggul kok diberhentikan? Bagaimana kok Bung tidak berbicara dengan kami yang memimpin pertempuran ini? Kami yang bertanggung jawab. Korban pun sudah banyak dan sebentar lagi itu kita menang. Kok Bung berhentikan?”

Menurut Soemarsono, ia tak kenal Sukarno dan Hatta yang diam saja di mobil saat diprotes keras. Namun Soemarsono terkejut melihat Amir Sjarifoeddin keluar. Bagi Soemarsono, Amir adalah pimpinannya sewaktu di Gerindo. Amir langsung merangkul Soemarsono sambil berbisik bahwa semua telah didiskusikan dan keputusannya seperti itu.

“Oleh karena Amir Sjarifoeddin bilang bahwa ini sudah keputusan, ya, saya tunduk saja. Jadi, saya kayak Gatotkaca ilang gapite. Kemudian saya malah diajak masuk ke mobil Amir itu. Saya dibawa ke Jalan Mawar di tempat corong radio yang dipakai gembar-gembor oleh Soetomo (Bung Tomo) itu. Akhirnya saya ikut menyerukan berhenti tembak menembak.

Karena peristiwa itu, Bung Karno kemudian jadi dekat dengan saya, lalu dalam rapat-rapat umum dia bilang ‘Ini adikku Kakrasana.’ Tapi dalam hati saya bilang, Kakrasana yang ilang gapite itu.”

Perundingan tingkat tinggi akhirnya digelar di lantai dua Kantor Gubernur keesokan harinya, 30 Oktober 1945 pagi hari menjelang siang. Perundingan berjalan dalam suasana tegang. Pembicaraan kacau, terkadang perwakilan Surabaya menggunakan kata-kata kasar.

Beberapa tank milik TKR diperintahkan jalan memutari gedung, niatnya untuk mengintimidasi Inggris. Namun suara bising tank peninggalan Jepang itu justru menganggu konsentrasi Sukarno, Hatta dan Amir Sjarifoeddin, sehingga diperintahkan untuk berhenti berputar-putar.

Perundingan antara lain memutuskan bahwa tentara Sekutu harus ditarik dari gedung-gedung di tengah kota dan dikonsentrasikan di Pelabuhan Tanjung Perak. Dua belah pihak juga sepakat membentuk badan penghubung (kontak biro) yang beranggotakan Mallaby, Kolonel L.P.H. Pugh, Mayor M. Hodson, Kapten H. Shaw dan Wing Commander Groom dari pihak Inggris,

Sedangkan dari Indonesia terdiri dari Residen Soedirman, Abdoel Azim Arnowo (Doel Arnowo), Atmadji, Mohamad Mangundiprojo, Soengkono, Soejono, Koesnandar, Roeslan Abdulgani dan T.D, Kundan. Setelah dicapai kesepakatan, siang itu juga Sukarno, Hatta dan Amir Sjarifoeddin kembali ke Jakarta.

Detik-detik Penembakan Mallaby

Namun persoalan belum usai. Pasukan Gurkha yang masih menempati Gedung Internatio, Jembatan Merah, berulah. Mereka terkadang menembaki pengguna jalan yang lewat di sekitar gedung, sehingga kembali memicu kemarahan rakyat Surabaya. Sekitar pukul 15.00 gedung tersebut mulai dikepung oleh ratusan pejuang dan rakyat. Baku tembak tak terhindarkan dan berlangsung hingga dua jam.

Kejadian itu memaksa anggota Kontak Biro yang baru beberapa jam terbentuk mendatangi lokasi untuk menghentikan tembak-menembak. Mereka menaiki beberapa mobil dan berjalan beriringan menuju Internatio.

Dalam artikelnya di Surabaya Post edisi Rabu, 6 Nopember 1985, berjudul Siapa Pembunuh Mallaby, Mengapa Dul Arnowo Tidak Bercerita? Suparto Brata menyatakan bahwa Mallaby sempat masuk dan berbicara dengan pasukan Gurkha di dalam gedung agar menghentikan tembakan.

Dengan berhentinya tembakan, pejuang Indonesia yang mengepung Gedung Internatio mulai keluar dari persembunyian dan ramai-ramai mengerumuni mobil-mobil yang berhenti di depan gedung. Mereka menuntut agar pasukan Gurkha di Internatio segera angkat kaki ke pelabuhan.

Soedirman dan Doel Arnowo memberi keterangan bahwa pasukan Gurkha akan dipindah ke Pelabuhan pada esok hari oleh TKR. Para pejuang Surabaya terlihat bisa menerima penjelasan itu. Brigadir Mallaby kembali masuk mobilnya, ia hendak meneruskan perjalanan ke tempat lain yang masih terdengar suara tembak-menembak.

Mobilnya maju, lalu menikung ke kanan, lewat Willemplein Noord menuju Jembatan Merah. Anggota Kontak Biro lainnya juga menyusul masuk mobilnya sendiri-sendiri, mereka mulai bergerak akan meninggalkan Internatio.

Melihat iring-iringan mobil meninggalkan gedung, sedangkan pasukan Gurkha masih ada di dalam, pejuang dan rakyat Surabaya tak puas. Terutama mereka yang tidak mendengar penjelasan yang telah disampaikan Soedirman dan Doel Arnowo. Mereka berteriak-teriak berusaha menghentikan laju mobil yang mulai beringsut, terutama mobil yang ditumpangi Mallaby.

Mobil pun berhenti. Banyak saksi kejadian itu yang kemudian tahu bahwa Mallaby mengutus Kapten Shaw pergi ke Gedung Internatio. Sumber Indonesia menceritakan bahwa sebenarnya Mallaby sendiri yang mula-mula akan turun, namun dicegah oleh anggota Kontak Biro karena suasana masih tegang.

Agar lebih mantap, perjalanan Kapten Shaw diikuti oleh perwira Indonesia, Mohammad Mangundiprojo, serta T.D. Kundan sebagai penerjemah. Kundan adalah pengusaha asal India yang bersimpati pada perjuangan Indonesia.

Sementara para utusan pergi ke gedung, Mallaby dan para anggota Kontak Biro menunggu di mobil. Dari gedung berjarak sekitar 200 meter, dan hanya beberapa meter saja dari Kalimas serta Jembatan Merah. Suasana mulai remang-remang mendekati magrib.

Sepuluh menit berlalu, tiba-tiba terlihat T.D. Kundan berlari keluar sambil berteriak memperingatkan bahwa pasukan Gurkha di dalam gedung sedang menyiapkan tembakan. Benar saja, tembakan gencar terdengar diikuti ledakan-ledakan granat di sekitar gedung.

Pejuang Indonesia yang awalnya berkumpul di depan gedung, spontan berlarian lintang pukang mencari tempat perlindungan. Terjadilan tembak-menembak lagi antara pasukan Gurkha di dalam gedung melawan pejuang Indonesia yang mengepungnya.

Suasana makin semrawut. Hari beranjak gelap. Tak ada kesaksian setelah malam itu.  Keesokan harinnya Inggris menyatakan bahwa Mallaby killed.

Pengakuan-pengakuan

Sampai 1973, orang masih bertanya-tanya siapa pembunuh Mallaby. Para saksi mata yang saat itu masih hidup tentu tahu jawabannya. Tapi mereka bungkam. Tidak bersedia bersaksi secara lisan maupun menuliskannya dalam bentuk artikel testimoni.

Menurut Suparto Brata, Doel Arnowo baru sedikit mengungkap teka-teki itu dalam artikel Roeslan Abdulgani berjudul 
Seratus Hari di Surabaya yang Menggemparkan. Artikel tersebut pertama kali muncul di Surabaya Post edisi 25 Oktober-9 Nopember 1973.

Dalam tulisan itu diceritakan bahwa saat tembak-menembak terjadi, semua anggota Kontak Biro berlarian menyelamatkan diri. Roeslan Abdulgani, Doel Arnowo, Soengkono, Kusnandar, dan dokter Mursito melompat ke Kalimas. Seorang pemuda menyusul meloncat dan berkata pada Doel Arnowo, “Wis beres, Cak (Sudah beres, Kak).”

“Apanya yang sudah beres?” tanya Doel Arnowo.

“Jenderal Inggris-nya. Mobilnya meledak dan terbakar.”

“Siapa yang meledakkan?” Doel Arnowo terkejut.

“Tidak tahu, ada granat yang meledak di dalam mobil, tapi dari pihak kita pun ada yang menembak ke arah mobil tersebut,” kata pemuda itu.

Para pemimpin Indonesia kaget mendengar laporan itu. Lalu berpesan, “Sudah, diam saja. Jangan ceritakan hal ini kepada orang lain!”

Sejak artikel itu dipublikasikan, tabir kematian Mallaby mulai sedikit terungkap. Dan 32 tahun setelah tewasnya Mallaby, di Majalah Tempo edisi 1977 seorang pelukis-karikaturis, Ook Hendironoto, mengaku sebagai penembak Mallaby. Meski demikian pengakuan itu belum secara resmi dibenarkan oleh penulis-penulis buku sejarah.

Seseorang bernama R.P. Supeno Judowijoyo, pada 10 Nopember 1981 menyerahkan naskah kesaksiannya soal kematian Mallaby kepada Panitia Penulisan Sejarah Kepahlawanan 10 Nopember 1945, di mana Suparto Brata menjadi salah seorang dari tim penulis itu.

Supeno menceritakan bahwa saat terjadi pertempuran di depan Gedung Internatio, ia juga ada di situ. Ia anggota TKR Sambongan yang dipimpin Abisiswondo.  Ketika Kapten Shaw dan Mangundiprojo pergi ke gedung, ia sebenarnya berniat ikut. Namun urung karena ditegur Soengkono, “Engkau tentara, mengapa ikut-ikutan ke sana?”

Saat terdengar tembakan dari gedung yang selanjutnya terjadi pertempuran, Soengkono dan Supeno segera berlindung di kolong mobil di belakang mobil Mallaby. Sewaktu tembak-menembak sedang galak-galaknya, dua orang pemuda mendekati dan memberi tahu bahwa mobil di depannya ialah mobil Jenderal Inggris, bagaimana kalau dibunuh saja? Soengkono menjawab, “Kalau berani…” Mendengar jawaban itu dua pemuda tersebut pergi. Tak lama kemudian terdengar ledakan granat dan suara tembakan. Menurut Supeno dua pemuda itu sempat kembali dan mengatakan bahwa telah menembak Jenderal Inggris. Sejak saat itu Supeno tak pernah bertemu mereka lagi. Ia juga belum pernah melihat wajah pemuda itu karena sedang di kolong mobil bersama Soengkono.

Baru setelah Tempo memuat pengakuan Ook Hendironoto, Supeno ingin mengetes apakah betul Ook adalah pemuda yang menggapai kakinya saat di kolong mobil itu. Supeno sengaja menemui Ook dan menyuruhnya bercerita. Ook pun mengatakan bahwa ia telah minta restu Soengkono di kolong mobil sebelum menembak Mallaby. Berdasarkan pengakuan itu, Supeno yakin Ook-lah pemuda yang mendatangi dia dan Soengkono saat di kolong mobil.

Namun dalam buku Nugroho Notosusanto berjudul Pertempuran Surabaya (1984), disebutkan bahwa yang berada di kolong mobil bersama Soengkono bukan Supeno dari TKR Sambongan, melainkan Subiyantoro, anggota BKR Pelajar. Hal itu berdasarkan hasil wawancara Nugroho dengan Soengkono.

Sedangkan dalam buku Seratus Hari di Surabaya, Roeslan Abdulgani mengisahkan bahwa salah seorang yang meloncat ke Kalimas bersama dia adalah Soengkono. Roeslan belum pernah meralat tulisan tersebut. Dari kesaksian Roeslan, berarti Soengkono tidak di kolong mobil saat pertempuran terjadi, namun ikut terjun ke Kalimas.

Ajis Endhog

Pada Senin, 16 September 1985, Suparto Brata mengaku dihubungi oleh seseorang bernama Amak Altuwy. Amak berujar sengaja menelepon Suparto Brata karena baru saja membaca koran yang menyebutkan bahwa Suparto ialah salah satu dari anggota tim penulis buku Sejarah Kepahlawanan 10 Nopember 1945.

Amak ingin mengungkapkan rahasia yang selama ini dia tutup rapat, bahwa pelaku penembakan pada Mallaby sesungguhnya ialah Abdul Azis alias Ajis Edhog, mantan anggota TKR Sambongan. Disebut Ajis Endhog karena pria itu bekerja sebagai penjual telur ayam. Amak mengaku berada di lokasi saat pertempuran

bersejarah itu terjadi.

Ketika itu umurnya 18 tahun dan ia menjadi anggota PRI Utara yang bermarkas di rumah Baswedan di Kampemenstraat 212 (sekarang Jalan KH Mas Mansyur). Cerita Amak yang paling penting ialah, pada waktu mobil Mallaby dihentikan dan Mallaby ditembak, ia berada di dekatnya. Langit memang mulai gelap, namun ia masih mengenali pelakunya, yakni H. A, Azis, tetangganya satu kampung. Amak tahu Azis menembak menggunakan Vickers-nya dari jarak dekat. Amak sangat terobsesi memegang Vickers seperti Azis, sedangkan miliknya sendiri hanya Colt. Karena Vickers itu pulalah Amak tak bisa melupakan tertembaknya Mallaby. Amak juga memberi tahu Suparto Brata bahwa Azis masih tinggal di rumahnya yang lama di Jalan Ampel Menara.

Sore itu juga mereka mencari Azis ke kawasan Ampel. Setelah ketemu, mula-mula dengan nada ketus Azis membantah sebagai pelaku penembakan Mallaby. Ia marah-marah dan mengusir Suparto Brata. Namun setelah dirayu cukup lama, akhirya ia bersedia terbuka. Cerita Azis klop dengan Amak bahwa ia mengaku menembak Mallaby menggunakan Vickres.

Orang Inggris itu mati dan senjatanya diambil oleh Akhiyat, pejuang Surabaya yang terkenal dengan julukan “Alap-alap Simokerto.” Setelah menembak, Azis ikut menyelamatkan diri dengan meloncat ke Kalimas. Di dalam sungai ia melapor pada Doel Arnowo bahwa telah menembak Mallaby.

Ia ikut Doel Arnowo keluar dari sungai di selatan Jembatan Merah jam 20.00, lalu pergi ke Hopbiro (kantor polisi). Dari situ ia dibawa Doel Arnowo ke suatu rumah di Genteng Kali sebelah barat Kabupaten. Azis sekali lagi disuruh menceritakan peristiwa penembakan terhadap Mallaby. Sesudah mendengar cerita Azis, Doel Arnowo berujar, “Sudah sampai di sini saja. Jasamu besar sekali. Tapi sementara ini jangan menceritakan hal ini kepada siapa pun juga, ya.”

Setelah kecamuk perang Surabaya reda pada akhir Nopember 1945, Azis melanjutkan berjuang di Tulungrejo, dekat Selekta, Batu. Ia sering pindah tempat menyesuaikan medan pertempuran. Azis mengaku pernah dipertemukan dengan Sukarno di Blitar. Di situ oleh Doel Arnowo dan disaksikan banyak orang, ia disuruh bercerita mengenai penembakan Mallaby.
Sukarno memuji-mujinya. Doel Arnowo menepuk-nepuk punggungnya sambil berkata, “Kau Arek Surabaya yang paling berjasa yang pantas diberi hadiah.”  Ketika perang selesai dan kedaulatan Indonesia diakui Belanda, Azis minta berhenti sebagai tentara. Pangkat terakhirnya Letda Artileri di Nganjuk bertanggal 27 Desember 1949.

Kepada 
Tempo, putra angkat Abdul Azis, Muhammad Chotib, pernah mengatakan, setelah berhenti sebagai tentara, ayahnya pindah ke Dusun Junggo Desa Tulungrejo, Kota Batu. Di sana ia berdagang kecil-kecilan buat menyambung hidup. Meski demikian Azis masih sering menengok anak cucunya yang ditinggal di Ampel, Surabaya.

Menurut Chotib, pada awal 60-an Azis pernah dilibatkan dalam pembuatan film dokumenter tentang perang Surabaya 1945 oleh TVRI. Azis diberi peran figuran sebagai warga kampung yang sedang main catur, dan lari terbirit-birit saat mendengar suara pesawat tempur Belanda.

Chotib mengaku awalnya tidak tahu bahwa ayah angkatnya adalah orang yang menembak Mallaby. Sebab sampai dia remaja, Azis tak pernah menyinggung-nyinggung peristiwa itu sama sekali. Chotib akhirnya tahu dengan sendirinya setelah membaca artikel Suparto Brata “Abah malah marah-marah saat saya tanyakan kebenaran tulisan itu,” kata Chotib, yang meninggal dunia dua tahun lalu, selang sepekan setelah memberikan keterangan pada Tempo.

Ada hal menarik saat tim peneliti sejarah mendatangi Azis di Junggo pada awal 70-an untuk menelisik pelaku penembakan terhadap Mallaby. Azis enggan meberikan keterangan. Ia membawa tim peneliti itu ke rumah Doel Arnowo yang saat itu sudah pindah ke Jalan Dempo, Kota Malang. Chotib pun diajak.

Menurut Chotib, ketika mereka datang, Doel Arnowo sedang santai. Ia hanya mengenakan sarung dan kaos singlet. Saat juru bicara tim peneliti bertanya siapa sebenarnya penembak Mallaby, Doel Arnowo menoleh pada Azis sambil berkata, “Lha iki lak wonge (lha ini kan orangnya).”

Menjelang akhir hayatnya, Azis berusaha mengurus statusnya sebagai veteran perang pada pemerintah. Azis bahkan pernah menghadap Abdul Haris Nasution di Jakarta untuk meyakinkan bahwa dia dulu pernah ikut berperang. Namun sampai meninggal pada 1989, pengajuannya sebagai veteran ditolak pemerintah.

Pada Rabu, 25 Oktober 2023, Tempo menemui putra Doel Arnowo, Agus Djafad Husni Arnowo, 80 tahun, di rumahnya, Jalan Tanggulangin, Surabaya, untuk meminta penjelasan apa yang diketahui ayahnya seputar tewasnya Mallaby. Menurut Agus, sampai akhir hayatnya, 18 Januari 1985, Doel Arnowo tidak bilang apa-apa pada anak-anaknya soal peristiwa terbunuhya Mallaby.

“Bapak memang sering ndongeng tentang masa-masa perang Surabaya dan masa-masa revolusi pada anak-anaknya, tapi beliau tak pernah cerita mengenai terbunuhnya Mallaby,” kata anak nomor empat dari 11 bersaudara itu.

Agus yakin pengakuan Abdul Azis maupun Ook Hendironoto sebagai penembak Mallaby telah didengar ayahnya. Namun Doel Arnowo memilih diam saja. “Bapak tak pernah mengomentari, baik membantah maupun mengiyakan. Pernah saya tanya, 'Bapak kok mendel mawon (diam saja)?' Beliau bilang, 'gawe apa ditanggapi (buat apa ditanggapi), jarna ae (biarkan saja)',” kata Agus Arnowo.

Pemerhati sejarah Surabaya, Ahmad Zaki Yamani, mengatakan telah meriset data bahwa pada 30 Oktober 1945 tidak sedang terjadi purnama. Suasana kota Surabaya, utamanya di sekitar tempat pertempuran Jembatan Merah, sudah pasti gelap gulita karena lampu-lampu jalan dimatikan.

“Sehingga misteri siapa sebenarnya penembak Mallaby, sepertinya makin sempurna,” kata Zaki.

Berdasarkan tautan berita dari : https://www.tempo.co/politik/siapa-penembak-jenderal-mallaby-di-surabaya-benarkah-ajis-endhog-dari-ampel--127033

 


Jumat, 14 Juli 2023

Siapa yang Menembak Jenderal Mallaby?

 

ALBUM PERJUANGAN

Kompas.com,

14 Juli 2023, 07:00 WIB

Verelladevanka Adryamarthanino , Nibras Nada Nailufar Tim Redaksi


Brigadir AWS Mallaby (dari potret oleh Walter Stoneman Illustrated London News, CCVII, 10 November 1945)

KOMPAS.com - Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby atau lebih akrab disebut Jenderal Mallaby adalah seorang perwira Angkatan Darat India Britania. Jenderal Mallaby tewas akibat ditembak dalam Pertempuran Surabaya pada 30 Oktober 1945. Kejadian ini sontak menyulut kemarahan Sekutu dan mereka memberi ultimatum agar rakyat Surabaya segera menyerah. Lantas, siapa yang menembak Jenderal Mallaby?
Misteri sosok yang menembak Jenderal Mallaby Terjadinya Pertempuran Surabyaa dilatarbelakangi oleh kedatangan pasukan Sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherland East Indies (NICA) pada 25 Oktober 1945.
Pasukan Sekutu dipimpin oleh Jenderal Mallaby yang saat itu langsung menuju ke Surabaya, Jawa Timur dan mendirikan pos-pos pertahanan. Pada 27 Oktober 1945, pasukan Sekutu menyerbu penjara dan membebaskan para tawanan perwira sekutu yang ditahan oleh Indonesia.

Setelah itu, pasukan Sekutu mulai mendirikan pertahanan di tempat-tempat penting, seperti di lapangan terbang, kantor radio, gedung internatio, dan pusat kereta api. Rakyat Indonesia juga diminta untuk segera menyerahkan senjata kepada pasukan Sekutu.

Akan tetapi, rakyat Surabaya menolak menyerah terhadap Sekutu. Pada 28 Oktober 1945, pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Bung Tomo mulai menyerang pos-pos pertahanan milik Sekutu. Berdasarkan dari artikel yang dibuat oleh Dr. Roeslan Abdulgani, Surabaia Post, antara 25 Oktober dan 9 November 1973, bertajuk Seratus Hari di Surabaia yang Menggemparkan Indonesia, diceritakan tentang bagaimana Jenderal Mallaby tewas pada hari itu.

Pada Selasa malam tanggal 30 Oktober 1945, di dekat Jembatan Merah, Surabaya, Jawa Timur, Jenderal Mallaby tewas akibat ditembak. Konon, sewaktu pertempuran sedang berlangsung, sejumlah pemuda Indonesia melihat Jenderal Mallaby masih dalam keadaan hidup.

Lalu, terlihat dua pemuda Indonesia menjauh untuk saling berdiskusi. Kemudian salah satu dari mereka pergi ke tempat Jenderal Mallaby berada dan langsung menembaknya. Lebih lanjut, dalam Artikel 8, Abdulgani menyampaikan cerita dari hasil wawancaranya dengan Kundan dan Muhammad, dua penduduk di Surabaya yang berada di tempat kejadian hari itu. Kundan mengatakan bahwa pada saat itu ia sedang berdiri di dekat mobil milik Jenderal Mallaby saat ia mendengar Mallaby memerintahkan Kapten Shaw pergi untuk masuk ke dalam gedung, tunggu selama 10 menit, dan jika kerusuhan belum mereda, mereka diperbolehkan untuk menembak. Menurut penuturan Kundan, pada saat itu Kapten Shaw menanggapi perintah Mallaby dengan mengatakan bahwa kondisi ini akan sangat berbahaya bagi Jenderal Mallaby.
Namun, Jenderal Mallaby tetap mempertahankan perintahnya dengan alasan tidak mau menyerah kepada penduduk Surabaya. Akan tetapi, versi ini ditentang oleh laporan yang ditulis Kapten Smith.
Dalam laporannya yang ditulis tanggal 20 Februari 1974, dikatakan bahwa ia tidak pernah mendengar perintah tersebut. Pasalnya, menurut laporan yang dibuat Kapten Smith, pada waktu itu Jenderal Mallaby meminta agar penduduk Surabaya bersedia untuk menyerahkan senjata mereka dan menghentikan serangan.

Kapten Smith tidak pernah mendengar Jenderal Mallaby memerintah pasukannya untuk menembak. Namun, terlepas dari beragam versi yang mencuat, sampai saat ini, siapa pembunuh Jenderal Mallaby masih menjadi misteri. Kabarnya, identitas sang pelaku hanya diketahui oleh sejumlah tokoh republik papan atas, seperti Doel Arnowo dan Roeslan Abdulgani. Pada 1970, Doel Arnowo pernah mengatakan bahwa pembunuh Jenderal Mallaby adalah seorang republikan muda, tetapi namanya tidak disebutkan.

Namun, berpuluh-puluh tahun kemudian, mencuat sebuah kabar dari seorang warga setempat bernama Muhammad Chotib, membeberkan cerita bahwa mendiang ayah angkatnya, Abdul Aziz alias Endog adalah pembunuh Jenderal Mallaby. Hal serupa juga dikatakan oleh seorang sejarawan lokal Surabaya bernama Ady Erlianto. Kemungkinan Abdul Aziz sebagai pembunuh Jenderal Mallaby tinggi, karena klaim tersebut juga didukung oleh kesaksian terakhir yang berada di lokasi pembunuhan, seorang jurnalis Republik keturunan Arab bernama Amak Altuwy.

Sumber: 
https://www.kompas.com/stori/read/2023/07/14/070000479/siapa-yang-menembak-jenderal-mallaby-?page=2.



Kamis, 10 November 2022

Siapa Pembunuh Brigjen Mallaby?

 

Berdikari Online

10 Nopember 2022

Penghujung Oktober 1945, tepatnya tanggal 28, 29, dan 30 Oktober 1945, terjadi pertempuran sengit antara pemuda dan rakyat Indonesia melawan tentara sekutu di Surabaya.

Pasukan Inggris, yang berkekuatan sekitar 6000-an prajurit, nyaris dilibas habis oleh pemuda dan rakyat Surabaya. Singkat cerita, demi menyelamatkan pasukannya, Inggris meminta Sukarno untuk turun tangan.

Sukarno, Hatta, dan Amir Sjarifoeddin pun diboyong ke Surabaya. Gencatan senjata pun disepakati. Dengan menumpangi jip, Sukarno berkeliling menyerukan gencatan senjata.

Pertempuran mereda, kecuali di depan gedung Internatio. Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, komandan tentara Inggris kala itu, bersama Kontak Biro (pihak penghubungan Indonesia-Inggris), mendatangi gedung Internatio.

Pertempuran sempat mereda. Namun, ketika Kontak Biro masuk ke dalam gedung, tiba-tiba pertempuran pecah lagi. Dan tiba-tiba granat menghantam mobil yang ditumpangi Mallaby.  

Brigjen Mallaby ditemukan tewas. Hingga hari ini, penyebab kematian dan siapa pembunuhnya belum jelas. Berikut beberapa pendapat.

 Versi tentara Inggris

Sejak awal Inggris menuding pemuda Indonesia sebagai dalang pembunuh Mallaby. Namun, tudingan itu tak didukung oleh bukti yang kuat.

Agak berselang lama, tepatnya 1970an, J. G. A. Parrott membuat artikel ilmiah berjudul “Who Killed Brigiader Mallaby”. Artikel itu merujuk pada kesaksian Kapten R.C. Smith, tentara Inggris yang ada saat kejadian.

Menurut Smith, saat itu Mallaby berkeliling Surabaya dengan bendera putih untuk mensosialisasikan gencatan senjata, sekaligus menyelamatkan pasukan Mahratta (pasukan gabungan India-Inggris) yang terpojok.

Ketika mobilnya mendekati gedung Internatio, ia dikepung oleh banyak pejuang Indonesia. Khawatir komandannya ditembak, Mayor Venu K. Gopal, komandan tentara Inggris di dalam gedung Internatio, melepas tembakan ke udara.

Ternyata pejuang Indonesia mengira tembakan itu serangan. Terjadilah tembak-menembak. Berdasarkan kesaksian Smith, seorang pemuda Indonesia menembak Mallaby. Smith kemudian melemparkan granat ke arah pemuda itu. Granat itu menyebabkan jok belakang mobil Mallaby hancur.

Parrot sendiri tak menyimpulkan siapa pembunuh Mallaby: apakah tembakan pemuda itu atau lemparan granat.

Versi Soemarsono

Soemarsono adalah salah satu tokoh penting saat pertempuran Surabaya. Dia adalah pimpinan ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), organisasi pemuda yang paling banyak menghimpun pejuang-pejuang dari kampung-kampung di Surabaya.

Menurut Soemarsono, Mallaby tertembak ketika baru keluar dari mobilnya mau menuju gedung Internatio. Dia pun mengajukan tiga kemungkinan penyebab Mallaby.

Pertama, ia merujuk pada keterangan Muhammad Mangundiprojo, anggota Kontak Biro yang masuk ke gedung Internatio, bahwa kematian Mallaby karena tembak-menembak antara pejuang RI versus tentara Inggris di dalam gedung.

Kedua, keterangan para pemuda, bahwa Mallaby tertembak oleh tembakan tentara Inggris.

Ketiga, meminjam analisa Greg Poulgrain, dosen sejarah Indonesia di University of the Sunshine Coast, bahwa Brigjend Mallaby sengaja dibunuh oleh sekutu untuk mendapatkan dalih menjatuhkan hukuman/punishment (serangan militer) ke Surabaya.

 

Doel Arnowo, si Pemegang Kunci Informasi

Doel Arnowo adalah tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang punya peranan penting saat Republik baru merdeka di kota Surabaya. Saat itu dia menjabat sebagai ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) di Surabaya.

Saat kejadian itu, Doel Arnowo menjadi anggota Kontak Biro. Saat kejadian sore itu, Doel Arnowo dan Roeslan Abdoelgani sebagai anggota Kontak Biro datang ke gedung internatio. Niatnya mau mensosialisasikan gencatan senjata dan menghentikan pertempuran.

Namun, saat pertempuran pecah, Doel Arnowo dan Roeslan meloncat ke Kali Mas untuk berlindung. Saat itu, usia mendengar ledakan granat, seorang pemuda mendekat padanya.

Menurut pemuda itu, dia sudah menghabisi Brigjen Mallaby. Reaksi Doel Arnowo saat itu adalah menyuruh pemuda itu untuk tutup mulut. Setidaknya, hingga 1970-an, Doel Arnowo tidak pernah mengungkit cerita itu.

Pembunuhnya Bernama Abdul Azis

Tahun 1980-an, seorang wartawan Harian Sore Surabaya Post, namanya Amak Altuwy, menulis artikel berjudul Kesaksian Saya Mengenai Terbunuhnya Brigadir Mallaby.

Altuwy menyebut nama seorang pemuda asal kampung Ampel, namanya Abdul Azis, sebagai pembunuh jenderal Inggris itu. Abdul Azis diketahui sebagai anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

H. Abdul Azis berdiri memakai jas


Mohammad Chotib, anak angkat Abdul Azis, kelak membenarkan klaim Altuwy itu. Chotib mendengar dari Abdul Azis, setelah membunuh Mallaby, dia melapor ke Doel Arnowo. Hanya saja, versi Chotib, Abdul Azis adalah anggota PRI, bukan TKR.

Beberapa sejarawan meyakini klaim Altuwy dan Chotib itu benar. Pemuda yang membunuh Mallaby, yang namanya dirahasiakan oleh Doel Arnowo, adalah Abdul Azis.

Cerita Des Alwi

Des Alwi juga menulis versi lain dalam bukunya, Pertempuran Surabaya, November 1945. Menurutnya, Mallaby tewas karena peluru yang salah sasaran (friendly fire) dari tentara Inggris sendiri.

Versi tersebut berdasarkan pengakuan Muhammad, seorang anggota Biro Kontak yang ke Gedung Internatio untuk bernegosiasi dengan tentara Inggris.

Di dalam gedung Internation, Muhammad melihat tentara Inggris menyiapkan mortir yang diarahkan pada kerumunan massa yang mengerumuni mobil Mallaby.

MAHESA DANU

 

Sumber : https://www.berdikarionline.com/siapa-pembunuh-brigjen-mallaby/


Sosok Pejuang Surabaya Pencabut Nyawa Mallaby

ALBUM PERJUANGAN


Tim DetikJatim - detikJatim

Kamis, 10 Nov 2022 15:32 WIB

Tentara Inggris mengamati mobil Buick 8 saksi bisu tewasnya Jenderal Mallaby di Surabaya. (Foto: Imperial War Museums)

Surabaya - Suasana penuh ketegangan terjadi di Gedung Internatio pada tanggal 30 Oktober 1945, sore. Sebuah perundingan gencatan senjata akan digelar setelah Inggris semakin terpojok di Perang 3 Hari melawan para pejuang di Surabaya.
Di luar gedung, ratusan Arek-arek Suroboyo bersenjata seadaanya tampak berkumpul seolah mengepung gedung. Sedangkan tentara Inggris berada di dalam gedung yang memang sudah terpojok.

Dalam perundingan itu, Pihak Indonesia diwakili Koesnandar, Roeslan Abdulgani, Doel Arnowo, dan Soengkono. Sedangkan Brigadir Jenderal Aubertin Walter Shotern (AWS) Mallaby berada di dalam mobilnya yang terparkir di depan gedung.

Namun saat akan dimulai perundingan, sebuah tembakan entah dari mana asalnya tiba-tiba menyalak. Aksi balas tembakan tak terelakan, kekacauan pecah saat itu juga. Para perwakilan yang hendak masuk ke gedung pun langsung berlari dan berlindung di sungai Kali Mas bersama para pejuang.

Dalam insiden itu, perwira tinggi Inggris Brigadir Jenderal Mallaby dinyatakan tewas. Ia tewas tertembak saat di dalam mobilnya yang juga hangus karena ledakan granat yang dilempar oleh prajuritnya sendiri, yang sebenarnya ingin membubarkan kerumunan. Granat itu meledak di dekat mobil Mallaby.

Tewasnya Mallaby adalah bencana untuk sekutu. Hal ini membuat Panglima Sekutu Asia Tenggara, Letjen Philip Christison murka. Ia mengancam akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggempur Surabaya.

Benar saja, Pasukan Inggris Divisi V dengan kekuatan 24 ribu tentara, 21 tank Sherman dan 24 pesawat terbang di bawah pimpinan Jenderal EC Mensergh berangsur dikirim ke Surabaya. Pengiriman ini terjadi sejak tanggal 4 hingga 9 November dikirim ke Surabaya.

Tak lama, perang Surabaya kembali pecah pada tanggal 10 November 1945. Tewasnya Mallaby dijadikan dalih Inggris menggempur Surabaya selama 21 hari. Namun, siapa sosok yang menewaskan Mallaby tak pernah diungkap atau disebut secara jelas.


Hingga suatu kali, seorang wartawan Harian Sore Surabaya Post bernama Amak Altuwy menulis bahwa pemuda yang menewaskan Mallaby adalah Abdul Azis.

Tulisan tersebut ditayangkan di koran berjudul 'Kesaksian Saya Mengenai Terbunuhnya Brigadir Mallaby' tertanggal 10 November 1982.

Dalam ulasannya, Altuwy menyebut, Abdul Azis berasal dari kawasan Ampel dan saat peristiwa itu terjadi berusia sekitar 16-17 tahun. Altuwy juga mengungkapkan bahwa Abdul Azis tercatat sebagai anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari kesatuan wilayah Sambongan.

Pegiat sejarah Surabaya, Kuncarsono Prasetyo mengatakan, apa yang diungkapkan Altuwy di Harian Surabaya Post bukan tanpa dasar. Sebab, Altuwy merupakan salah seorang pelaku sejarah dalam pertempuran itu sendiri.

Tulisan Altuwy, lanjut Kuncar, juga dikuatkan dengan keterangan dalam buku induk Perang Surabaya. Buku tersebut merupakan kumpulan kesaksian para veteran pertempuran dan khususnya saksi mata peristiwa tewasnya Mallaby.

Selanjutnya, Abdul Azis tetap tak mengakui sampai akhir hayatnya.


"Abdul Azis itu memang fakta pertama yang diungkap sama Altuwy, wartawan Surabaya Post. Karena pertama, Altuwy itu memang orang Ampel. Kedua, dia juga ikut peristiwa dan kemudian jadi wartawan. Nah, Haji Abdul Azis ini tinggalnya di Ampel Menara dulu. Jadi pada tahun 1970, para veteran itu membuat kesaksian dan ditulis dalam buku induk perang Surabaya," terang Kuncar.

"Tapi Haji Abdul Azis sendiri anehnya tidak ikut menulis atau memberi kesaksian. Nah, apakah pelakunya Abdul Azis saat itu? Kesaksian para veteran ini saling 'menjahit'," ujar inisiator forum diskusi sejarah Begandring Soerabaia itu.

Menurut Kuncar, usai menembak Mallaby, Abdul Azis saat itu kemudian melapor ke salah satu tokoh TKR Doel Arnowo. Mendapat laporan itu, Doel Arnowo kaget lalu meminta Abdul Azis merahasiakan dan jangan pernah mengungkapkan aksinya itu.

"Nah di sana (Kalimas) Abdul Azis kemudian melapor bahwa telah menembak mati Mallaby. Dan Doel Arnowo yang kemudian pernah menjadi wali kota itu meminta Abdul Azis menyembunyikan rahasia. Sehingga hingga akhir hayatnya, Abdul Azis tidak pernah mengaku dia pelakunya," jelas Kuncar.

Kuncar menambahkan permintaan Doel Arnowo ke Abdul Azis juga tidak pernah diketahui apa alasan pastinya. Namun, dia menilai hal itu berkaitan dengan Konvensi Jenewa terkait larangan menembak seseorang jika bukan dalam situasi perang.

"Pertimbangannya mungkin karena kalau mengakui, kita sebagai pelaku (penembak Mallaby) itu kan tidak gentle. Dalam perjanjian perang Jenewa kan tidak diperbolehkan dalam keadaan tidak perang orang kemudian ditembak," tutur Kuncar.

Dia melanjutkan, usai terbitnya tulisan Amak Altuwy di Surabaya Post, Abdul Azis kemudian banyak dicari oleh wartawan dan para sejarawan. Namun, Abdul Azis tetap bungkam tak mengakui. Bahkan, Kuncar menyebut Abdul Azis sempat menyembunyikan diri dan tinggal di Kota Batu, Malang hingga akhir hayatnya.

"Setelah diungkap di tulisannya Altuwy, Abdul Azis ini kemudian banyak dicari untuk dimintai keterangan. Tapi tetap nggak mau (mengaku). Bahkan dia sempat menghindari dan menyembunyikan diri ke Batu dan tinggal di sana," ungkap Kuncar.

"Jadi kalau ada yang berhasil mewawancarai Abdul Azis itu pasti bukan pengakuan dari dirinya. Karena Abdul Azis tetap diam sampai akhir hayatnya. Abdul Azis sendiri meninggal dan dimakamkan di Batu sana," tambah Kuncar.

Meski telah diungkapkan Altuwy, tewasnya Mallaby sendiri masih tetap berselimut kabut misteri hingga ini. Karena dua versi yang berkembang terkait kematian Mallaby masih belum terpecahkan.

"Dalam mobil yang ditumpangi Mallaby itu sebenarnya ada dua orang dari Inggris dan Belanda. Nah, mereka sempat mengakui dan menyaksikan bahwa memang ada pemuda yang diduga Abdul Azis itu menembak Mallaby, tapi tidak sampai mati. Tapi Mallaby tewas karena terkena ledakan granat yang dilempar," terang Kuncar.

"Pada versi yang lain, Mallaby memang telah tewas karena terkena tembakan Abdul Azis ini dan kemudian disusul dengan lemparan granat. Jadi sebenarnya masih sumir antara dua versi ini sampai sekarang," tandas Kuncar.

Sumber  
https://www.detik.com/jatim/budaya/d-6398512/sosok-pejuang-surabaya-pencabut-nyawa-mallaby .