ALBUM PERJUANGAN
HARIAN DISWAY
Reporter: Muhammad Fachrizal
Hamdani|
Editor: Heti Palestina Yunani|
Rabu 08-11-2023,18:12 WI
Foto Brigadir
(Jenderal) Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby. A.W.S. Mallaby diduga kuat
tewas akibat tembakan dari Abdul Aziz pada 30 Oktober 1945 di depan Gedung
Internatio. -Boombastis-
HARIAN
DISWAY-Pasukan
Inggris mengakui bahwa peristiwa 10 November 1945 menjadi pertempuran terberat
pasca-Perang Dunia II.
Pasalnya,
pertempuran ini mengakibatkan dua jenderalnya tewas Brigadir (Jenderal)
Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby dan Robert Guy Loder-Symonds
beserta sekitar 600-2.000 tentara dari pihak Inggris.
Penyebab
utama pertempuran 10 November 1945 itu memang tewasnya Mallaby. Pada saat itu,
Mallaby hendak mengumumkan kabar gencatan senjata kepada masyarakat Surabaya
pada 30 Oktober 1945.
Pengumuman
gencatan senjata itu muncul sebagai bentuk kesepakatan untuk menghentikan
pertempuran singkat yang terjadi pada 27-29 Oktober 1945.
Pertempuran
itu terjadi ketika pasukan Inggris mendarat di Surabaya lalu mendirikan pos
pertahanannya disertai dengan sebaran pamflet Inggris yang mengancam akanmenguasaisemua
kota besar di Jawa termasuk Surabaya.
Saat
hendak menyampaikan pengumuman gencatan senjata, Mallaby -yang menaiki mobil-
terjebak di depan Gedung Internatio akibat kerumunan massa.
Pada
saat itulah ada seseorang yang melempari granatdanmenembaknyahingga membuat
Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945 waktu malam hari.
Hingga
saat ini, pelaku yang menewaskan Mallaby masih misterius. Terdapat beberapa
versi yang muncul terkait pelaku penembakan. Salah satu versi terkuat mengarah
pada sosok H. Abdul Aziz.
Siapa Abdul Aziz?
Foto
Abdul Aziz (kiri) bersama Jenderal (Purn) Abdul Haris Nasution (kanan).
-Koleksi Pribadi Keluarga Abdul Azis-Historia.id
Namun
pada intinya, Abdul Aziz berkumpul dengan orang-orang besar asli Surabaya,
seperti Doel Arnowo, Achijat Alap-Alap, dan Wirontono.
Jika
benar terlibat dalam peristiwa penembakan Mallaby, Abdul Aziz saat itu
masih berusia muda. Diperkirakan sekitar 16-17 tahun.
Detik-Detik
Penembakan A.W.S. Mallaby
Kejadian
berawal ketika Mallaby hendak mengumumkan kabar gencatan senjata pada 30
Oktober 1945 waktu petang hari dengan menggunakan mobil. Kondisi pada saat itu
sangat ricuh antara pihak Indonesia terutama masyarakat Surabaya dan pihak
Inggris.
Mallaby
bersama rombongan Biro Kontak Indonesia dan para pemimpin Surabaya merapat ke
Gedung Internatio untuk mengumukan gencatan senjata.
Mobil
yang ditumpangi A.W.S. Mallaby rusak akibat granat dan tembakan yang menewaskan
A.W.S. Mallaby di depan Gedung Internatio pada 30 Oktober 1945. -IST-Sindonews
Ketika
para rombongan masuk ke dalam gedung, Mallaby masih berada di dalam mobil
karena para pemuda Indonesia ingin perundingan dari pihak Inggris diwakili oleh
perwira muda.
Secara
tiba-tiba, lemparan granat muncul dari dalam Gedung Internatio hingga merusak
mobilnya. Tidak lama kemudian, seorang pemuda Indonesia -diduga Abdul Aziz-
datang mendekati jendela mobil, lalu menembaki Mallaby dengan senapan.
“Butuh
waktu 15 detik hingga setengah menit bagi Brigadir untuk benar-benar tewas,”
menurut Kapten RC Smith yang dikutip dari JGA Parrot dalam Who Killed
Brigadier Mallaby, dimuat dalam Jurnal Indonesia 20
Oktober 1975.
Setelah
itu, Abdul Aziz melapor ke Cak Doel Arnowo, “Wes Cak. Wes tak beresno!
(Sudah cak, sudah saya bereskan!” ucap Chotibsaat menirukan cerita
ayahnya.
“Apane
diberesno? Sing iku (Mallaby)? Ngawur ae kon!
(Apanya yang dibereskan? Yang itu (Mallaby)? Ngawur saja kamu!),” lanjut
Chotib, dilansir dari Historia.id.
Pendukung
Versi Abdul Aziz
Versi
Abdul Aziz sebagai pelaku penembakan berawal dari tulisan Amak Altuwy dalam
koran Surabaya Post yang berjudul Kesaksian Saya
Mengenai Terbunuhnya Brigadir Mallaby terbitan 10 November 1982.
Amak
Altuwy menyatakan dalam tulisan di harian sore di Jawa Timur itu bahwa pelaku
penembakan Mallaby adalah Abdul Aziz.
Pernyataan
tersebut diperkuat oleh anaknya Abdul Aziz, yaitu Muhammad Chotib. Dilansir
dari Historia.id, Chotib yakin bahwa ayahnyalah yang menembak Mallaby dengan
pistol.
Selain
itu, pendiri komunitas Roode Brug Soerabaia Ady Erlianto Setyawan juga turut
mendukung versi ini. “Klaim (Abdul Aziz, Red) itu relatif kuat”, ucap pegiat
sejarah lokal tersebut. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar