Senin, 12 November 2018

Lelaki Pencabut Nyawa Mallaby

ALBUM PERJUANGAN

Politik

Banyak orang mengaku pembunuh Mallaby. Sosok satu ini diyakini sebagai penembak sebenarnya.

Oleh :

Randy Wirayudha

12 November 2018 

Di teras rumahnya di kawasan Ampel, Kota Surabaya, Muhammad Chotib menyambut hangat kedatangan Historia. Mengenakan kaos polo dan sarung, pria paruh baya itu lalu mempersilakan masuk.

Tembok ruang tamunya yang bercat biru diramaikan bingkai-bingkai foto. Sebuah lukisan menyelip di antara kumpulan foto itu. Dari sekian banyak foto di dinding itu, foto dua orang paruh baya paling menyolok. Salah satu pria dalam foto tersebut merupakan figur yang amat populer, yakni Jenderal (Purn.) Abdul Haris Nasution atau yang biasa disapa Pak Nas.

“Itu saya lupa tahunnya. Ada satu kesempatan ayah saya ke Jakarta, sewaktu ingin mengurus tunjangan veterannya. Ketemu Pak Nas di rumahnya,” kata Chotib menjelaskan foto tersebut.

Duduk di sofa hitam ruang tamu itu, Chotib lalu menceritakan lebih lanjut siapa ayahnya, yang ternyata turut terlibat dalam sebuah peristiwa yang berujung pada pertempuran dahsyat di Surabaya, 10 November 1945.

Abah (ayah angkat) saya H. Abdul Azis. Di daerah Ampel sini dikenalnya Haji Azis Endog karena dulu ibu saya satu-satunya yang jualan endog (telur) di Ampel. Dia pejuang tulen, enggak neko-neko orangnya. Kumpulannya saat revolusi ya bareng pentol-pentolnya (orang-orang besar) asli Surabaya, seperti Doel Arnowo, Achijat Alap-Alap, Wirontono,” ujarnya.

Pertempuran 10 November dipantik oleh kematian seorang perwira tinggi Inggris, Brigadier Aubertin Walter Sothern Mallaby, pada 30 Oktober 1945 di depan Gedung Internatio. Chotib meyakini ayahnyalah yang dengan pistolnya menembuskan timah panas ke arah Mallaby hingga tewas.

Kejadiannya berlangsung petang hari. Suasana di sekitar Internatio amat ricuh meski sebelumnya Presiden Sukarno, sebagaimana dilansir Kronik Revolusi Indonesia I: 1945, sudah menyepakati penghentian tembak-menembak antara Inggris sebagai perwakilan Sekutu dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan unsur-unsur pemuda serta rakyat.

Mallaby bersama rombongan Biro Kontak Indonesia serta para pemimpin Surabaya, seperti Residen Soedirman dan Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Doel Arnowo, merapat ke Internatio selepas dari Lindeteves untuk memberi penjelasan penghentian kontak senjata.

Tapi ketika rombongan sudah masuk gedung, Mallaby berada di dalam mobil lantaran para pemuda Indonesia menghendaki perunding Inggris diwakili perwira muda (Kapten Shaw). Tiba-tiba, lemparan granat muncul dari dalam gedung. Suasana yang tenang sontak kembali ramai oleh letusan senjata dari luar gedung.

Begitu baku tembak itu reda, sekira pukul 20.30 malam, Mallaby melihat keadaan dengan melongok dari dalam mobil. Abdul Azis yang tergabung di Pemuda Rakyat Indonesia (PRI) langsung menghampiri mobil yang ditumpangi Mallaby dan dua perwira Inggris lain lalu melepaskan tembakan.

“Seorang Indonesia datang ke jendela (dekat, red.) Brigadir dengan senapan. Dia melepaskan empat tembakan ke kami bertiga,” tulis Kapten RC Smith, yang ada di mobil itu, dalam laporannya yang dikutip JGA Parrott dalam “Who Killed Brigadier Mallaby”, dimuat di Jurnal Indonesia 20 Oktober 1975. “Butuh waktu 15 detik hingga setengah menit bagi Brigadir untuk benar-benar tewas.”

Muhammad Chotib, putra angkat Abdul Azis yang mencabut nyawa Brigadier AWS Mallaby. (Randy Wirayudha/Historia)

“Jadi setelah itu dia lapor ke Cak Doel Arnowo. ‘Wes Cak. Wes tak beresno! (Sudah cak, sudah saya bereskan!’,” tutur Chotib menirukan cerita ayahnya saat melapor ke Arnowo.

’Apane diberesno? Sing Iku (Mallaby)? Ngawur ae kon! (Apanya yang dibereskan? Yang itu (Mallaby)? Ngawur saja kamu!’ Lha ya kena marah dia (Abdul Azis) sama Doel Arnowo,” sambung Chotib.

Meski hingga kini hanya segelintir orang yang mengetahuinya, keterangan Chotib diyakini otentik oleh peneliti sejarah yang juga pendiri Roodebrug Soerabaia, Ady Erlianto Setyawan. “Klaim (Abdul Azis) itu relatif kuat,” kata Ady saat dihubungi Historia. Penulis buku Benteng-Benteng Surabaya dan Surabaya: Di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu? itu yakin lantaran klaim Abdul Azis via penuturan Amak Altuwy, jurnalis keturunan Arab yang juga saksi mata, itu diutarakan saat para pelaku Pertempuran 10 November masih hidup.

“Kalau dia (klaim Abdul Azis) bohong, pasti tokoh-tokoh macam Ruslan Abdulgani yang juga ada di TKP saat Mallaby terbunuh akan buka suara. Dan orang selevel Brigjen Barlan Setiadijaya enggak akan memasukkan kisah itu ke dalam buku dia (10 November 1945: Gelora Kepahlawanan Indonesia) yang isinya studi tentang pertempuran Surabaya yang sangat-sangat komprehensif,” tandas Ady.

Doel Arnowo memerintahkan Azis tutup mulut soal penembakan itu. “Bukan karena takut dianggap penyebab Pertempuran Surabaya, tapi karena memang sudah janjinya pada Doel Arnowo untuk tidak bicara soal itu,” tambah Chotib yang kini ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ampel itu.

 

Sumber : https://www.historia.id/article/lelaki-pencabut-nyawa-mallaby-vxj3a


Sabtu, 10 November 2018

Misteri Terbunuhnya Brigjen AWS Mallaby

 

 ALBUM PERJUANGAN

Yudi Anugrah NugrohoYudi Anugrah Nugroho
- Sabtu, 10 November 2018


Pesawat Angkatan Udara Inggris di kapal induk. Sumber; Imperial War Museum

TUGAS baru menanti Biro Kontak. Badan gabungan perwakilan pihak Inggris-Indonesia, terutama para pejuang Surabaya, hasil kesepakatan perundingan Hawthorn dan Sukarno, bertugas untuk berkomunikasi dan berkoordinasi mengenai keamanan Surabaya.

Mereka harus berkeliling kota beriringan untuk mengabarkan penghentian tembak-menembak lantaran di beberapa titik pertempuran kedua pihak masih terjadi.

Biro Kontak terbagi atas dua unsur, dari Inggris beranggotakan Brigadir Mallaby, Kapten Shaw, Kolonel Pugh, Mayor Hobson dan Wing Commander Groom. Sementara, unsur Indonesia beranggotakan Residen Soedirman, Doel Arnowo, Atmadji, Mohammad, Soengkono, Spejono Prawirobismo, Koesnandar, Roeslan Abdulgani dan TD Kundan -kebangsaan India- sebagai penerjemah.

Semula, rombongan akan menuju gedung Lindeteves, namun pertempuran di sana sudah berhenti. Mereka pun mengalihkan tujuan ke gedung Internatio. Rombongan tiba sekira pukul 17.15.

Massa pemuda di luar gedung bersorak melihat kedatangan konvoi. Mereka menuntut pasukan Inggris Tentara Kompi D India di dalam gedung untuk keluar dan menyerah. Pihak Biro Kontak Indonesia pun berusaha menenangkan massa. Biro Kontak meminta kepada massa pemuda untuk bersabar dan minta pasukan Inggris untuk mendapat ijin menetap di dalam gedung semalam, dan baru dievakuasi keesokan harinya.

Tenang sebentar, massa kembali beringas setelah muncul serombongan massa pemuda lainnya dari sekitar gedung kantor telepon. Sementara dari dalam, seperti dikutip buku Pertempuran Surabaya November 1945 karya Des Alwi, pasukan Inggris sudah mengarahkan moncong senapan mesin ke arah kerumunan. Situasi memanas. Mereka meminta Mallaby dan Biro Kontak masuk ke dalam gedung dan meminta pasukan Inggris tidak mengarahkan senjata ke arah mereka.

Mallaby menerima permintaan tersebut. Saat ia akan melangkah keluar mobil, tiba-tiba ada suara dari pemuda,"Jangan Inggris tua. itu saja yang muda, suruh masuk".

Mallaby pun meminta Kapten Shaw untuk masuk ke gedung Internatio untuk menenangkan pasukan Inggris. Ia ditemani pimpinan TKR Surabaya, Mohammad Mangoendiprodjo dan penerjemah TD Kundan. Ketika perundingan sedang berlangsung di dalam Internatio, terdengar rentetan tembakan.

Brigjen AWS Mallaby

"Dengan jelas saya menyaksikan sendiri yang melepaskan tembakan adalah tentara Inggris, dan bukan rakyat kita. Sudah barang tentu tembakan yang sekonyong-konyong ini mengakibatkan banyaknya korban di pihak kita. Saya melihat mereka bergelimpangan," ujar Roeslan Abdulgani dalam buku Seratus Hari di Soerabaja Yang Menggemparkan Indonesia.

Mereka pun menghambur menyelamatkan diri. Sebagian besar, termasuk Roeslan Abdulgani, Doel Arnowo, dokter Moersito, Koesnandar, masuk ke aliran Kali Mas. Mereka menjauh dari jangkauan tembakan Inggris. Mereka disusul rombongan pemuda yang juga ikut menceburkan diri ke Kali Mas.

"Pak sudah beres," ujar pemuda itu kepada Roeslan.

"Lho, apanya yang beres?," sambar Doel Arnowo.

"Jendral Inggris yang tua itu. Mobilnya meledak dan dia sudah mati terbakar," ujar pemuda itu.

"Siapa yang meldakkan," tanya mereka hampir serentak.

"Tidak tahu. Tiba-tiba saja ada granat meledak dari dalam mobil. Tapi memang dari pihak kita juga ada yang menembak ke arah mobil itu," ujar pemuda itu.

Kematian Mallaby memang menjadi teka-teki. Siapa pembunuhnya dan dengan cara apa, masih simpang siur.

Menurut Ali Harun, Pengurus PRI Pusat Utara, Mallaby tewas di dalam mobil akibat ledakan granat yang dilemparkan tentara Inggris dari dalam gedung Internatio.

Sementara seorang pemuda kala itu, Abdul Azis, mengaku sebagai penembak Mallaby. Dia menembak menggunakan pistol Vickers. Sekira jarak satu meter, peluru keluar dari sarang berkali-kali. Setelah itu, granat tangan dilemparkan pasukan Inggris disusul tembakan sporadis dari gedung Internatio.

Cerita Abdul Azis memang sejalan dengan dua saksi perwira Inggris pendamping Mallaby di mobil, Kapten RC Smith, LO Brigade ke-49 dan Kapten TL Laugland, HQ Birgade 49.

Salah satu dari dua orang pemuda Indonesia, menurut RC Smith dikutip JGA Parrot pada “Who Killed Brigadier Mallaby”, mendatangi mobil kami. Mallaby bicara kepadanya dan langsung dibalas tembakan melalui jendela depan. Mallaby tewas pada pukul 15.30 WIB.

Kapten TL Laugland pun mengamini Mallaby tewas akibat tembakan revolver seorang pemuda. Mallaby jatuh ke tempat duduknya dengan teriakan keras dan meninggal dalam beberapa detik, antara 19.30 hingga 19-45 WIB.

Kapten Smith, lanjut Laugland, kemudian melempar granat ke mobil hingga terbakar agar pemuda Indonesia tidak bisa menemukan mayat Mallaby. Keduanya pun lolos.

Di lain sisi, Mayor Venu K Gopal, Komandan Kompi D VCO Tentara India, mengaku memerintahkan pasukannya di dalam gedung Internatio untuk menembak karena terdesak. Dia mendengar suara tembakan menyasar mobil Mallaby. “Brigadir Mallaby sangat mungkin tidak terbunuh oleh tembakan kami”.

"Ya simpang siur dan misteri, sebab memang saat itu tidak ada saksi dari kubu Indonesia sendiri. Lalu mayatnya juga pada hari kedelapan dikubur di Menteng Pulo, sebab ditahan dulu di rumah sakit oleh para pemuda saat itu," ujar sejarawan Hendi Jo, penulis buku Zaman Perang: Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa, kepada merahputih.com (*)

#Hari Pahlawan 2018

Sumber : https://www.merahputih.com/post/read/misteri-terbunuhnya-brigjen-aws-mallaby-7