ALBUM PERJUANGAN
Yudi Anugrah Nugroho
- Sabtu, 10 November 2018
TUGAS baru menanti Biro Kontak. Badan gabungan perwakilan pihak Inggris-Indonesia,
terutama para pejuang Surabaya, hasil kesepakatan perundingan Hawthorn dan
Sukarno, bertugas untuk berkomunikasi dan berkoordinasi mengenai keamanan
Surabaya.
Mereka harus berkeliling kota beriringan untuk mengabarkan
penghentian tembak-menembak lantaran di beberapa titik pertempuran kedua pihak
masih terjadi.
Biro Kontak terbagi atas dua unsur, dari Inggris beranggotakan
Brigadir Mallaby, Kapten Shaw, Kolonel Pugh, Mayor Hobson dan Wing Commander
Groom. Sementara, unsur Indonesia beranggotakan Residen Soedirman, Doel Arnowo,
Atmadji, Mohammad, Soengkono, Spejono Prawirobismo, Koesnandar, Roeslan
Abdulgani dan TD Kundan -kebangsaan India- sebagai penerjemah.
Semula, rombongan akan menuju gedung Lindeteves, namun
pertempuran di sana sudah berhenti. Mereka pun mengalihkan tujuan ke gedung
Internatio. Rombongan tiba sekira pukul 17.15.
Massa pemuda di luar gedung bersorak melihat kedatangan konvoi.
Mereka menuntut pasukan Inggris Tentara Kompi D India di dalam gedung untuk
keluar dan menyerah. Pihak Biro Kontak Indonesia pun berusaha menenangkan
massa. Biro Kontak meminta kepada massa pemuda untuk bersabar dan minta pasukan
Inggris untuk mendapat ijin menetap di dalam gedung semalam, dan baru
dievakuasi keesokan harinya.
Tenang sebentar, massa kembali beringas setelah muncul
serombongan massa pemuda lainnya dari sekitar gedung kantor telepon. Sementara
dari dalam, seperti dikutip buku Pertempuran Surabaya November 1945 karya Des Alwi,
pasukan Inggris sudah mengarahkan moncong senapan mesin ke arah kerumunan.
Situasi memanas. Mereka meminta Mallaby dan Biro Kontak masuk ke dalam gedung
dan meminta pasukan Inggris tidak mengarahkan senjata ke arah mereka.
Mallaby menerima permintaan tersebut. Saat ia akan melangkah
keluar mobil, tiba-tiba ada suara dari pemuda,"Jangan Inggris tua. itu
saja yang muda, suruh masuk".
Mallaby pun meminta Kapten Shaw untuk masuk ke gedung Internatio
untuk menenangkan pasukan Inggris. Ia ditemani pimpinan TKR Surabaya, Mohammad
Mangoendiprodjo dan penerjemah TD Kundan. Ketika perundingan sedang berlangsung
di dalam Internatio, terdengar rentetan tembakan.
"Dengan jelas
saya menyaksikan sendiri yang melepaskan tembakan adalah tentara Inggris, dan
bukan rakyat kita. Sudah barang tentu tembakan yang sekonyong-konyong ini
mengakibatkan banyaknya korban di pihak kita. Saya melihat mereka
bergelimpangan," ujar Roeslan Abdulgani dalam buku Seratus Hari di
Soerabaja Yang Menggemparkan Indonesia.
Mereka pun menghambur
menyelamatkan diri. Sebagian besar, termasuk Roeslan Abdulgani, Doel Arnowo,
dokter Moersito, Koesnandar, masuk ke aliran Kali Mas. Mereka menjauh dari
jangkauan tembakan Inggris. Mereka disusul rombongan pemuda yang juga ikut
menceburkan diri ke Kali Mas.
"Pak sudah
beres," ujar pemuda itu kepada Roeslan.
"Lho, apanya yang
beres?," sambar Doel Arnowo.
"Jendral Inggris
yang tua itu. Mobilnya meledak dan dia sudah mati terbakar," ujar pemuda
itu.
"Siapa yang
meldakkan," tanya mereka hampir serentak.
"Tidak tahu.
Tiba-tiba saja ada granat meledak dari dalam mobil. Tapi memang dari pihak kita
juga ada yang menembak ke arah mobil itu," ujar pemuda itu.
Kematian Mallaby
memang menjadi teka-teki. Siapa pembunuhnya dan dengan cara apa, masih simpang
siur.
Menurut Ali Harun,
Pengurus PRI Pusat Utara, Mallaby tewas di dalam mobil akibat ledakan granat
yang dilemparkan tentara Inggris dari dalam gedung Internatio.
Sementara seorang
pemuda kala itu, Abdul Azis, mengaku sebagai penembak Mallaby. Dia menembak
menggunakan pistol Vickers. Sekira jarak satu meter, peluru keluar dari sarang
berkali-kali. Setelah itu, granat tangan dilemparkan pasukan Inggris disusul
tembakan sporadis dari gedung Internatio.
Cerita Abdul Azis
memang sejalan dengan dua saksi perwira Inggris pendamping Mallaby di mobil,
Kapten RC Smith, LO Brigade ke-49 dan Kapten TL Laugland, HQ Birgade 49.
Salah satu dari dua
orang pemuda Indonesia, menurut RC Smith dikutip JGA Parrot pada “Who Killed
Brigadier Mallaby”, mendatangi mobil kami. Mallaby bicara kepadanya dan
langsung dibalas tembakan melalui jendela depan. Mallaby tewas pada pukul 15.30
WIB.
Kapten TL Laugland pun
mengamini Mallaby tewas akibat tembakan revolver seorang pemuda. Mallaby jatuh
ke tempat duduknya dengan teriakan keras dan meninggal dalam beberapa detik,
antara 19.30 hingga 19-45 WIB.
Kapten Smith, lanjut
Laugland, kemudian melempar granat ke mobil hingga terbakar agar pemuda
Indonesia tidak bisa menemukan mayat Mallaby. Keduanya pun lolos.
Di lain sisi, Mayor
Venu K Gopal, Komandan Kompi D VCO Tentara India, mengaku memerintahkan
pasukannya di dalam gedung Internatio untuk menembak karena terdesak. Dia
mendengar suara tembakan menyasar mobil Mallaby. “Brigadir Mallaby sangat
mungkin tidak terbunuh oleh tembakan kami”.
"Ya simpang siur
dan misteri, sebab memang saat itu tidak ada saksi dari kubu Indonesia sendiri.
Lalu mayatnya juga pada hari kedelapan dikubur di Menteng Pulo, sebab ditahan
dulu di rumah sakit oleh para pemuda saat itu," ujar sejarawan Hendi Jo,
penulis buku Zaman Perang: Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa,
kepada merahputih.com (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar