ALBUM PERJUANGAN
Amir Baihaqi - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 08:45 WIB
Mobil Buick 8 yang jadi saksi bisu kematian Jenderal Mallaby (Foto: Wikipedia)Surabaya - Pada 30 Oktober 1945, baku tembak terjadi antara
arek-arek Suroboyo dengan tentara sekutu Inggris. Baku tembak di petang hari
itu terjadi di depan Gedung Internatio yang sedang digelar perundingan gencatan
senjata. Perundingan dilakukan setelah Inggris kian terpojok selama pertempuran
3 hari.
Dalam insiden itu, perwira tinggi Inggris
Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (A.W.S) Mallaby dinyatakan tewas. Hal
ini memicu pertempuran 10 November 1945. Namun, siapa sosok yang menewaskan
Mallaby tak pernah diungkap atau disebut secara jelas.
Hingga untuk pertama kalinya, seorang wartawan
Harian Sore Surabaya Post bernama Amak Altuwy menulis bahwa pemuda yang
menewaskan Mallaby adalah Abdul Azis. Tulisan tersebut ditayangkan di koran
berjudul 'Kesaksian Saya Mengenai Terbunuhnya Brigadir Mallaby' tertanggal 10
November 1982.
Dalam ulasannya, Altuwy menyebut, Abdul Azis
berasal dari kawasan Ampel dan saat peristiwa itu terjadi berusia sekitar 16 -
17 tahun. Altuwy juga mengungkapkan bahwa Abdul Azis tercatat sebagai anggota
Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari kesatuan wilayah Sambongan.
Pegiat sejarah Surabaya, Kuncarsono mengatakan
apa yang diungkapkan Altuwy di Harian Surabaya Post bukan tanpa dasar. Sebab,
Altuwy merupakan salah seorang pelaku sejarah dalam pertempuran itu sendiri.
Tulisan Altuwy, lanjut Kuncar, juga dikuatkan
dengan keterangan dalam buku induk Perang Surabaya. Buku tersebut merupakan
kumpulan kesaksian para veteran pertempuran dan khususnya saksi mata peristiwa
tewasnya Mallaby.
"Abdul Azis itu memang fakta pertama yang
diungkap sama Altuwy wartawan Surabaya Post. Karena pertama, Altuwy itu memang
orang Ampel. Kedua, dia juga ikut peristiwa dan kemudian jadi wartawan. Nah
Haji Abdul Azis ini tinggalnya di Ampel Menara dulu. Jadi pada tahun 1970, para
veteran itu membuat kesaksian dan ditulis dalam buku induk perang
Surabaya," terang Kuncarsono kepada detikcom, Rabu (10/11/2021).
"Tapi Haji Abdul Azis sendiri anehnya tidak
ikut menulis atau memberi kesaksian. Nah, apakah pelakunya Abdul Azis saat itu?
Kesaksian para veteran ini saling menjahit," imbuh pria yang juga
inisiator forum diskusi sejarah Begandring Soerabaia itu.
Menurut Kuncar, usai menembak Mallaby, Abdul
Azis kemudian melapor ke salah satu tokoh TKR Doel Arnowo. Mendapat laporan
itu, Doel Arnowo kemudian meminta Abdul Azis merahasiakan dan jangan pernah
mengungkapkan aksinya itu.
"Nah di sana (Kali Mas) Abdul Azis kemudian
melapor bahwa telah menembak mati Mallaby. Dan Doel Arnowo yang kemudian pernah
menjadi wali kota itu meminta Abdul Azis menyembunyikan rahasia. Sehingga
hingga akhir hayatnya Abdul Azis tidak pernah mengaku dia pelakunya,"
imbuh Kuncar.
Kuncar menambahkan permintaan Doel Arnowo ke
Abdul Azis juga tidak pernah diketahui apa alasan pastinya. Namun, dia menilai
hal itu berkaitan dengan Konvensi Jenewa terkait larangan menembak seseorang
jika bukan dalam situasi perang.
"Pertimbangannya mungkin karena kalau
mengakui kita sebagai pelaku (Penembak Mallaby) itu kan tidak gentle. Dalam
perjanjian perang Jenewa kan tidak diperbolehkan dalam keadaan tidak perang
orang kemudian ditembak," tutur Kuncar.
Dia melanjutkan, usai terbitnya tulisan Amak
Altuwy di Surabaya Post, Abdul Azis kemudian banyak dicari oleh wartawan dan
para sejarawan. Namun, Abdul Azis tetap bungkam tak mengakui. Bahkan, Kuncar
menyebut Abdul Azis sempat menyembunyikan diri dan tinggal di Kota Batu, Malang
hingga akhir hayatnya.
"Nah setelah diungkap di tulisannya Altuwy,
Abdul Azis ini kemudian banyak dicari untuk dimintai keterangan. Tapi tetap gak
mau (Mengaku). Bahkan dia sempat menghindari dan menyembunyikan diri ke Batu
dan tinggal di sana," ungkap Kuncar.
"Jadi kalau ada yang berhasil mewawancarai
Abdul Azis itu pasti bukan pengakuan dari dirinya. Karena Abdul Azis tetap diam
sampai akhir hayatnya. Abdul Azis sendiri meninggal dan dimakamkan di Batu
sana," tambah Kuncar.
Meski telah diungkapkan Altuwy, tewasnya Mallaby
sendiri masih tetap menjadi teka-teki hingga saat ini. Sebab ada dua versi yang
berkembang terkait kematian Mallaby yakni tewas tertembak dan terkena ledakan
granat.
"Dalam mobil yang ditumpangi Mallaby itu
sebenarnya ada dua orang dari Inggris dan Belanda. Nah mereka sempat mengakui
dan menyaksikan bahwa memang ada pemuda yang diduga Abdul Azis itu menembak Mallaby
tapi tidak sampai mati. Tapi Mallaby tewas karena terkena ledakan granat yang
dilempar," terang Kuncar.
"Pada versi yang lain, Mallaby memang telah
tewas karena terkena tembakan Abdul Azis ini dan kemudian disusul dengan
lemparan granat. Jadi sebenarnya masih sumir antara dua versi ini sampai
sekarang," tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar