Kamis, 10 November 2022

Siapa Pembunuh Brigjen Mallaby?

 

Berdikari Online

10 Nopember 2022

Penghujung Oktober 1945, tepatnya tanggal 28, 29, dan 30 Oktober 1945, terjadi pertempuran sengit antara pemuda dan rakyat Indonesia melawan tentara sekutu di Surabaya.

Pasukan Inggris, yang berkekuatan sekitar 6000-an prajurit, nyaris dilibas habis oleh pemuda dan rakyat Surabaya. Singkat cerita, demi menyelamatkan pasukannya, Inggris meminta Sukarno untuk turun tangan.

Sukarno, Hatta, dan Amir Sjarifoeddin pun diboyong ke Surabaya. Gencatan senjata pun disepakati. Dengan menumpangi jip, Sukarno berkeliling menyerukan gencatan senjata.

Pertempuran mereda, kecuali di depan gedung Internatio. Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby, komandan tentara Inggris kala itu, bersama Kontak Biro (pihak penghubungan Indonesia-Inggris), mendatangi gedung Internatio.

Pertempuran sempat mereda. Namun, ketika Kontak Biro masuk ke dalam gedung, tiba-tiba pertempuran pecah lagi. Dan tiba-tiba granat menghantam mobil yang ditumpangi Mallaby.  

Brigjen Mallaby ditemukan tewas. Hingga hari ini, penyebab kematian dan siapa pembunuhnya belum jelas. Berikut beberapa pendapat.

 Versi tentara Inggris

Sejak awal Inggris menuding pemuda Indonesia sebagai dalang pembunuh Mallaby. Namun, tudingan itu tak didukung oleh bukti yang kuat.

Agak berselang lama, tepatnya 1970an, J. G. A. Parrott membuat artikel ilmiah berjudul “Who Killed Brigiader Mallaby”. Artikel itu merujuk pada kesaksian Kapten R.C. Smith, tentara Inggris yang ada saat kejadian.

Menurut Smith, saat itu Mallaby berkeliling Surabaya dengan bendera putih untuk mensosialisasikan gencatan senjata, sekaligus menyelamatkan pasukan Mahratta (pasukan gabungan India-Inggris) yang terpojok.

Ketika mobilnya mendekati gedung Internatio, ia dikepung oleh banyak pejuang Indonesia. Khawatir komandannya ditembak, Mayor Venu K. Gopal, komandan tentara Inggris di dalam gedung Internatio, melepas tembakan ke udara.

Ternyata pejuang Indonesia mengira tembakan itu serangan. Terjadilah tembak-menembak. Berdasarkan kesaksian Smith, seorang pemuda Indonesia menembak Mallaby. Smith kemudian melemparkan granat ke arah pemuda itu. Granat itu menyebabkan jok belakang mobil Mallaby hancur.

Parrot sendiri tak menyimpulkan siapa pembunuh Mallaby: apakah tembakan pemuda itu atau lemparan granat.

Versi Soemarsono

Soemarsono adalah salah satu tokoh penting saat pertempuran Surabaya. Dia adalah pimpinan ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), organisasi pemuda yang paling banyak menghimpun pejuang-pejuang dari kampung-kampung di Surabaya.

Menurut Soemarsono, Mallaby tertembak ketika baru keluar dari mobilnya mau menuju gedung Internatio. Dia pun mengajukan tiga kemungkinan penyebab Mallaby.

Pertama, ia merujuk pada keterangan Muhammad Mangundiprojo, anggota Kontak Biro yang masuk ke gedung Internatio, bahwa kematian Mallaby karena tembak-menembak antara pejuang RI versus tentara Inggris di dalam gedung.

Kedua, keterangan para pemuda, bahwa Mallaby tertembak oleh tembakan tentara Inggris.

Ketiga, meminjam analisa Greg Poulgrain, dosen sejarah Indonesia di University of the Sunshine Coast, bahwa Brigjend Mallaby sengaja dibunuh oleh sekutu untuk mendapatkan dalih menjatuhkan hukuman/punishment (serangan militer) ke Surabaya.

 

Doel Arnowo, si Pemegang Kunci Informasi

Doel Arnowo adalah tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang punya peranan penting saat Republik baru merdeka di kota Surabaya. Saat itu dia menjabat sebagai ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) di Surabaya.

Saat kejadian itu, Doel Arnowo menjadi anggota Kontak Biro. Saat kejadian sore itu, Doel Arnowo dan Roeslan Abdoelgani sebagai anggota Kontak Biro datang ke gedung internatio. Niatnya mau mensosialisasikan gencatan senjata dan menghentikan pertempuran.

Namun, saat pertempuran pecah, Doel Arnowo dan Roeslan meloncat ke Kali Mas untuk berlindung. Saat itu, usia mendengar ledakan granat, seorang pemuda mendekat padanya.

Menurut pemuda itu, dia sudah menghabisi Brigjen Mallaby. Reaksi Doel Arnowo saat itu adalah menyuruh pemuda itu untuk tutup mulut. Setidaknya, hingga 1970-an, Doel Arnowo tidak pernah mengungkit cerita itu.

Pembunuhnya Bernama Abdul Azis

Tahun 1980-an, seorang wartawan Harian Sore Surabaya Post, namanya Amak Altuwy, menulis artikel berjudul Kesaksian Saya Mengenai Terbunuhnya Brigadir Mallaby.

Altuwy menyebut nama seorang pemuda asal kampung Ampel, namanya Abdul Azis, sebagai pembunuh jenderal Inggris itu. Abdul Azis diketahui sebagai anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

H. Abdul Azis berdiri memakai jas


Mohammad Chotib, anak angkat Abdul Azis, kelak membenarkan klaim Altuwy itu. Chotib mendengar dari Abdul Azis, setelah membunuh Mallaby, dia melapor ke Doel Arnowo. Hanya saja, versi Chotib, Abdul Azis adalah anggota PRI, bukan TKR.

Beberapa sejarawan meyakini klaim Altuwy dan Chotib itu benar. Pemuda yang membunuh Mallaby, yang namanya dirahasiakan oleh Doel Arnowo, adalah Abdul Azis.

Cerita Des Alwi

Des Alwi juga menulis versi lain dalam bukunya, Pertempuran Surabaya, November 1945. Menurutnya, Mallaby tewas karena peluru yang salah sasaran (friendly fire) dari tentara Inggris sendiri.

Versi tersebut berdasarkan pengakuan Muhammad, seorang anggota Biro Kontak yang ke Gedung Internatio untuk bernegosiasi dengan tentara Inggris.

Di dalam gedung Internation, Muhammad melihat tentara Inggris menyiapkan mortir yang diarahkan pada kerumunan massa yang mengerumuni mobil Mallaby.

MAHESA DANU

 

Sumber : https://www.berdikarionline.com/siapa-pembunuh-brigjen-mallaby/


Sosok Pejuang Surabaya Pencabut Nyawa Mallaby

ALBUM PERJUANGAN


Tim DetikJatim - detikJatim

Kamis, 10 Nov 2022 15:32 WIB

Tentara Inggris mengamati mobil Buick 8 saksi bisu tewasnya Jenderal Mallaby di Surabaya. (Foto: Imperial War Museums)

Surabaya - Suasana penuh ketegangan terjadi di Gedung Internatio pada tanggal 30 Oktober 1945, sore. Sebuah perundingan gencatan senjata akan digelar setelah Inggris semakin terpojok di Perang 3 Hari melawan para pejuang di Surabaya.
Di luar gedung, ratusan Arek-arek Suroboyo bersenjata seadaanya tampak berkumpul seolah mengepung gedung. Sedangkan tentara Inggris berada di dalam gedung yang memang sudah terpojok.

Dalam perundingan itu, Pihak Indonesia diwakili Koesnandar, Roeslan Abdulgani, Doel Arnowo, dan Soengkono. Sedangkan Brigadir Jenderal Aubertin Walter Shotern (AWS) Mallaby berada di dalam mobilnya yang terparkir di depan gedung.

Namun saat akan dimulai perundingan, sebuah tembakan entah dari mana asalnya tiba-tiba menyalak. Aksi balas tembakan tak terelakan, kekacauan pecah saat itu juga. Para perwakilan yang hendak masuk ke gedung pun langsung berlari dan berlindung di sungai Kali Mas bersama para pejuang.

Dalam insiden itu, perwira tinggi Inggris Brigadir Jenderal Mallaby dinyatakan tewas. Ia tewas tertembak saat di dalam mobilnya yang juga hangus karena ledakan granat yang dilempar oleh prajuritnya sendiri, yang sebenarnya ingin membubarkan kerumunan. Granat itu meledak di dekat mobil Mallaby.

Tewasnya Mallaby adalah bencana untuk sekutu. Hal ini membuat Panglima Sekutu Asia Tenggara, Letjen Philip Christison murka. Ia mengancam akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggempur Surabaya.

Benar saja, Pasukan Inggris Divisi V dengan kekuatan 24 ribu tentara, 21 tank Sherman dan 24 pesawat terbang di bawah pimpinan Jenderal EC Mensergh berangsur dikirim ke Surabaya. Pengiriman ini terjadi sejak tanggal 4 hingga 9 November dikirim ke Surabaya.

Tak lama, perang Surabaya kembali pecah pada tanggal 10 November 1945. Tewasnya Mallaby dijadikan dalih Inggris menggempur Surabaya selama 21 hari. Namun, siapa sosok yang menewaskan Mallaby tak pernah diungkap atau disebut secara jelas.


Hingga suatu kali, seorang wartawan Harian Sore Surabaya Post bernama Amak Altuwy menulis bahwa pemuda yang menewaskan Mallaby adalah Abdul Azis.

Tulisan tersebut ditayangkan di koran berjudul 'Kesaksian Saya Mengenai Terbunuhnya Brigadir Mallaby' tertanggal 10 November 1982.

Dalam ulasannya, Altuwy menyebut, Abdul Azis berasal dari kawasan Ampel dan saat peristiwa itu terjadi berusia sekitar 16-17 tahun. Altuwy juga mengungkapkan bahwa Abdul Azis tercatat sebagai anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari kesatuan wilayah Sambongan.

Pegiat sejarah Surabaya, Kuncarsono Prasetyo mengatakan, apa yang diungkapkan Altuwy di Harian Surabaya Post bukan tanpa dasar. Sebab, Altuwy merupakan salah seorang pelaku sejarah dalam pertempuran itu sendiri.

Tulisan Altuwy, lanjut Kuncar, juga dikuatkan dengan keterangan dalam buku induk Perang Surabaya. Buku tersebut merupakan kumpulan kesaksian para veteran pertempuran dan khususnya saksi mata peristiwa tewasnya Mallaby.

Selanjutnya, Abdul Azis tetap tak mengakui sampai akhir hayatnya.


"Abdul Azis itu memang fakta pertama yang diungkap sama Altuwy, wartawan Surabaya Post. Karena pertama, Altuwy itu memang orang Ampel. Kedua, dia juga ikut peristiwa dan kemudian jadi wartawan. Nah, Haji Abdul Azis ini tinggalnya di Ampel Menara dulu. Jadi pada tahun 1970, para veteran itu membuat kesaksian dan ditulis dalam buku induk perang Surabaya," terang Kuncar.

"Tapi Haji Abdul Azis sendiri anehnya tidak ikut menulis atau memberi kesaksian. Nah, apakah pelakunya Abdul Azis saat itu? Kesaksian para veteran ini saling 'menjahit'," ujar inisiator forum diskusi sejarah Begandring Soerabaia itu.

Menurut Kuncar, usai menembak Mallaby, Abdul Azis saat itu kemudian melapor ke salah satu tokoh TKR Doel Arnowo. Mendapat laporan itu, Doel Arnowo kaget lalu meminta Abdul Azis merahasiakan dan jangan pernah mengungkapkan aksinya itu.

"Nah di sana (Kalimas) Abdul Azis kemudian melapor bahwa telah menembak mati Mallaby. Dan Doel Arnowo yang kemudian pernah menjadi wali kota itu meminta Abdul Azis menyembunyikan rahasia. Sehingga hingga akhir hayatnya, Abdul Azis tidak pernah mengaku dia pelakunya," jelas Kuncar.

Kuncar menambahkan permintaan Doel Arnowo ke Abdul Azis juga tidak pernah diketahui apa alasan pastinya. Namun, dia menilai hal itu berkaitan dengan Konvensi Jenewa terkait larangan menembak seseorang jika bukan dalam situasi perang.

"Pertimbangannya mungkin karena kalau mengakui, kita sebagai pelaku (penembak Mallaby) itu kan tidak gentle. Dalam perjanjian perang Jenewa kan tidak diperbolehkan dalam keadaan tidak perang orang kemudian ditembak," tutur Kuncar.

Dia melanjutkan, usai terbitnya tulisan Amak Altuwy di Surabaya Post, Abdul Azis kemudian banyak dicari oleh wartawan dan para sejarawan. Namun, Abdul Azis tetap bungkam tak mengakui. Bahkan, Kuncar menyebut Abdul Azis sempat menyembunyikan diri dan tinggal di Kota Batu, Malang hingga akhir hayatnya.

"Setelah diungkap di tulisannya Altuwy, Abdul Azis ini kemudian banyak dicari untuk dimintai keterangan. Tapi tetap nggak mau (mengaku). Bahkan dia sempat menghindari dan menyembunyikan diri ke Batu dan tinggal di sana," ungkap Kuncar.

"Jadi kalau ada yang berhasil mewawancarai Abdul Azis itu pasti bukan pengakuan dari dirinya. Karena Abdul Azis tetap diam sampai akhir hayatnya. Abdul Azis sendiri meninggal dan dimakamkan di Batu sana," tambah Kuncar.

Meski telah diungkapkan Altuwy, tewasnya Mallaby sendiri masih tetap berselimut kabut misteri hingga ini. Karena dua versi yang berkembang terkait kematian Mallaby masih belum terpecahkan.

"Dalam mobil yang ditumpangi Mallaby itu sebenarnya ada dua orang dari Inggris dan Belanda. Nah, mereka sempat mengakui dan menyaksikan bahwa memang ada pemuda yang diduga Abdul Azis itu menembak Mallaby, tapi tidak sampai mati. Tapi Mallaby tewas karena terkena ledakan granat yang dilempar," terang Kuncar.

"Pada versi yang lain, Mallaby memang telah tewas karena terkena tembakan Abdul Azis ini dan kemudian disusul dengan lemparan granat. Jadi sebenarnya masih sumir antara dua versi ini sampai sekarang," tandas Kuncar.

Sumber  
https://www.detik.com/jatim/budaya/d-6398512/sosok-pejuang-surabaya-pencabut-nyawa-mallaby .


Tewasnya Brigadir Mallaby dan Misteri Pemuda Belasan Tahun yang Menembaknya

 

ALBUM PERJUANGAN

Kompas.com, 

10 November 2022, 18:58 WIB

Luqman Sulistiyawan, Bayu Galih Tim Redaksi

AWS Mallaby(Dok. Kompas)

KOMPAS.com - Tewasnya Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby, pemimpin tentara Sekutu di Surabaya menjadi salah satu pemicu terjadinya perang 10 November 1945. Pemuda di Surabaya saat itu marah dengan kedatangan pasukan Brigade Infantri India 49 Maratha yang dipimpin oleh Mallaby pada 25 Oktober 1945.  Pasukan Mallaby datang ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang, setelah negara tersebut kalah dalam Perang Dunia II. Selain itu, mereka juga membawa misi untuk membebaskan orang-orang Eropa yang menjadi tawanan perang. Tentara Sekutu menyulut amarah para pemuda Surabaya karena mempersenjatai orang-orang Belanda yang sebelumnya menjadi tawanan Jepang.

Hal itu pun membuat hubungan antara tentara Sekutu dengan pemuda Surabaya tegang dan memunculkan perlawanan arek-arek Surabaya.

Puncaknya pada 30 Oktober 1945, Jenderal Mallaby meninggal secara tragis di dekat Jembatan Merah, Surabaya dalam peristiwa baku tembak. Terbunuhnya Mallaby pun sampai saat ini masih menimbulkan misteri. Hal ini tidak terlepas dari siapakah sosok yang membunuh jenderal asal Inggris tersebut. Dari peristiwa meninggalnya Mallaby, muncul beberapa pendapat. Kebanyakan mengatakan bahwa Mallaby tewas akibat ditembak oleh pemuda Indonesia. Namun, ada pula yang mengganggap bahwa tewasnya Mallaby karena ledakan granat anak buahnya sendiri.

Dr Roeslan Abdulghoni, salah satu pelaku sejarah Pertempuran Surabaya menuliskan di harian Surabaya Pos bahwa jenderal Inggris itu tewas ditembak seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di jendela mobil Mallaby. Pemuda itu menembakan senapannya ke arah Mallaby dan dua pengawalnya, Kapten RC Smith serta TL Laughland. Empat kali tembakan dilepaskan ke tiga orang itu dan membuat Mallaby tewas.

Dalam artikel yang ditulis JGA Parrott berjudul Who Killed Brigiader Mallaby? ,  Kapten RC Smith sebagai saksi mata kejadian mengatakan, dia melihat ada seorang pemuda Indonesia muncul secara tiba-tiba dan menembak Mallaby dari jarak yang cukup dekat. Smith mengatakan bahwa setelah menembak, pemuda Indonesia itu merunduk di samping mobil dan tetap di sana sampai Mallaby meninggal. Smith juga mengatakan, insiden baku tembak tersebut terjadi setelah pihak Inggris memulai penembakan. Menurut Smith, ia tidak terlalu melihat jelas ciri-ciri penembak Mallaby. Namun, ia memperkirakan penembaknya adalah seorang pemuda berumur 16 sampai 17 tahun.

"Orang Indonesia yang membunuh Brigadir itu adalah pemuda sekitar 16 atau 17 tahun, tapi terlalu gelap untuk melihat dia mengenakan seragam apa. Senjatanya adalah pistol otomatis," kata Smith.
 


BrigJen Mallaby memegang bendera putih dan Residen Sudirman duduk di muka mobil(Istimewa)

Smith mengakui,  ketika pemuda Indonesia itu berusaha menembak Mallaby, ia sempat melempar granat. Granat yang ia lemparkan melewati tubuh Mallaby dan mengakibatkan jok belakang mobil yang mereka tumpangi terbakar. Keterangan dari Smith itu pun membuat banyak orang bertanya-tanya apakah Mallaby meninggal karena tembakan pemuda Indonesia, atau justru karena granat dari Smith yang membakar jok belakang mobil tersebut.  Dalam buku berjudul 10 November 45: Mengapa Inggris Membom Surabaya? (2018) yang ditulis sejarawan Batara Hutagalung, disebutkan bahwa banyak orang Indonesia mengaku sebagai penembak Mallaby pada 30 Oktober 1945.

Dalam Majalah Tempo 12 November 1977 seorang bernama Dukut Hendronoto mengaku bahwa ia adalah sosok di balik penembakan Mallaby yang masih menjadi misteri. Kemudian pada 1986 muncul juga pengakuan dari Abdul Aziz di surat kabar Buana Minggu yang mengeklaim bahwa ia adalah penembak Mallaby. Tercatat, ada sekitar 12 orang yang mengaku sebagai penembak Mallaby.

Namun berdasarkan penilaian dari beberapa pelaku sejarah, klaim yang kemungkinan besar benar adalah Abdul Aziz. Sebab, keterangannya dianggap mirip dengan Kapten RC Smith yang menjadi saksi mata tewasnya Brigadir Mallaby.

Sumber: 
https://www.kompas.com/cekfakta/read/2022/11/10/185800382/tewasnya-brigadir-mallaby-dan-misteri-pemuda-belasan-tahun-yang?page=all#page3.


Senin, 25 April 2022

Tewasnya AWS Mallaby

ALBUM PERJUANGAN

Kompas.com, 25 April 2022, 11:00 WIB

Lukman Hadi Subroto, Widya Lestari Ningsih Tim Redaksi


BrigJen Mallaby memegang bendera putih dan Residen Sudirman duduk di muka mobil (Istimewa)

KOMPAS.com - Setelah Jepang menyerah dan Perang Dunia II selesai, pasukan Sekutu yang diwakili oleh militer Inggris tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Tujuan kedatangan tentara Sekutu ke Indonesia saat itu adalah untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan orang-orang Eropa yang menjadi tawanan perang. Namun, tentara Sekutu justru menyulut amarah para pemuda Surabaya karena mempersenjatai orang-orang Belanda yang ditawan Jepang.

Konflik ini pecah menjadi pertempuran yang menewaskan jenderal Inggris. Jenderal inggris yang tewas dalam pertempuan di Surabaya bernama AWS Mallaby.

Aubertin Walter Sothern Mallaby atau juga dikenal dengan Brigadir AWS Mallaby berasal dari Brigade Infanteri India 49 Maratha. Keluarnya ultimatum AFNEI pada tanggal 9 November 1945 bagi rakyat Surabaya disebabkan insiden di Gedung Internatio yang menewaskan AWS Mallaby.

Berikut kronologi tewasnya Mallaby di Surabaya.

Brigjen Mallaby tewas di Gedung Internatio Setelah mendarat di Surabaya, Mallaby mengutus Kapten Douglas MacDonald untuk menghubungi pemimpin revolusioner Indonesia, yaitu Moestopo. Dalam pertemuan itu, Moestopo menyatakan bahwa pihaknya tidak akan menentang pasukan Sekutu, yang diwakili Inggris, untuk menjalankan tugasnya. Pasukan Sekutu kemudian bekerja di bawah pengawasan dari arek-arek Suroboyo.

Akan tetapi, pada 27 Oktober 1945 situasi berubah memanas setelah beredarnya pamflet yang disebar oleh tentara Sekutu. Pamflet yang ditandatangani oleh Jenderal Douglas Hawthorn itu berisi perintah penyerahan senjata kepada arek-arek Suroboyo. Hal ini kemudian memicu serangan arek-arek Suroboyo terhadap pasukan Sekutu pada 28 Oktober 1945.

Setelah itu, keadaan Kota Surabaya sudah bisa terkontrol karena terjadi perundingan dan upaya gencatan senjata atas imbauan dari Presiden Soekarno.

Kemudian, pada 30 Oktober 1945, pasukan Sekutu yang mengupayakan perdamaian di Surabaya melakukan patroli.
Ketika patroli sedang berlangsung, terjadi insiden yang menyebabkan Brigadir Mallaby tewas dalam sebuah serangan. Penyebab kematian AWS Mallaby adalah ia ditembak oleh pejuang yang diperkirakan bernama Abdul Azis di depan Gedung Internatio, Surabaya.
Pecah Pertempuran 10 November Setelah Abdul Azis menembak Jenderal Mallaby hingga tewas, para perwira militer Inggris di Surabaya sepakat untuk menuntut balas. Kendati demikian, ada pula yang berpendapat bahwa AWS Mallaby tewas karena sebuah ledakan, bukan tertembak. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, kematian AWS Mallaby menjadi titik balik permusuhan di Surabaya.
Setelah Jenderal Mallaby tewas, ketegangan semakin terasa di Surabaya, antara pemuda dan pejuang kemerdekaan dengan pasukan Inggris. Pengganti Jenderal Mallaby adalah Mayor Jenderal EC Mansergh, yang menyampaikan ultimatum agar para pejuang di Surabaya menyerah.

Namun, ultimatum tersebut tidak diindahkan, sehingga mengakibatkan pecahnya Pertempuran 10 November di Surabaya.

Referensi: Palmos, Frank. (2016). Surabaya 1945, Sakral Tanahku. Jakarta: Pustaka Obor.

Sumber: 
https://www.kompas.com/stori/read/2022/04/25/110000679/tewasnya-aws-mallaby?page=2.


Rabu, 10 November 2021

Sosok Penembak Jenderal Mallaby, Pemicu Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

ALBUM PERJUANGAN


Amir Baihaqi - detikNews

Rabu, 10 Nov 2021 08:45 WIB

                 Mobil Buick 8 yang jadi saksi bisu kematian Jenderal Mallaby (Foto: Wikipedia)
 

Surabaya - Pada 30 Oktober 1945, baku tembak terjadi antara arek-arek Suroboyo dengan tentara sekutu Inggris. Baku tembak di petang hari itu terjadi di depan Gedung Internatio yang sedang digelar perundingan gencatan senjata. Perundingan dilakukan setelah Inggris kian terpojok selama pertempuran 3 hari.
Dalam insiden itu, perwira tinggi Inggris Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (A.W.S) Mallaby dinyatakan tewas. Hal ini memicu pertempuran 10 November 1945. Namun, siapa sosok yang menewaskan Mallaby tak pernah diungkap atau disebut secara jelas.

Hingga untuk pertama kalinya, seorang wartawan Harian Sore Surabaya Post bernama Amak Altuwy menulis bahwa pemuda yang menewaskan Mallaby adalah Abdul Azis. Tulisan tersebut ditayangkan di koran berjudul 'Kesaksian Saya Mengenai Terbunuhnya Brigadir Mallaby' tertanggal 10 November 1982.

Dalam ulasannya, Altuwy menyebut, Abdul Azis berasal dari kawasan Ampel dan saat peristiwa itu terjadi berusia sekitar 16 - 17 tahun. Altuwy juga mengungkapkan bahwa Abdul Azis tercatat sebagai anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari kesatuan wilayah Sambongan.

Pegiat sejarah Surabaya, Kuncarsono mengatakan apa yang diungkapkan Altuwy di Harian Surabaya Post bukan tanpa dasar. Sebab, Altuwy merupakan salah seorang pelaku sejarah dalam pertempuran itu sendiri.

Tulisan Altuwy, lanjut Kuncar, juga dikuatkan dengan keterangan dalam buku induk Perang Surabaya. Buku tersebut merupakan kumpulan kesaksian para veteran pertempuran dan khususnya saksi mata peristiwa tewasnya Mallaby.

"Abdul Azis itu memang fakta pertama yang diungkap sama Altuwy wartawan Surabaya Post. Karena pertama, Altuwy itu memang orang Ampel. Kedua, dia juga ikut peristiwa dan kemudian jadi wartawan. Nah Haji Abdul Azis ini tinggalnya di Ampel Menara dulu. Jadi pada tahun 1970, para veteran itu membuat kesaksian dan ditulis dalam buku induk perang Surabaya," terang Kuncarsono kepada detikcom, Rabu (10/11/2021).

"Tapi Haji Abdul Azis sendiri anehnya tidak ikut menulis atau memberi kesaksian. Nah, apakah pelakunya Abdul Azis saat itu? Kesaksian para veteran ini saling menjahit," imbuh pria yang juga inisiator forum diskusi sejarah Begandring Soerabaia itu.

Menurut Kuncar, usai menembak Mallaby, Abdul Azis kemudian melapor ke salah satu tokoh TKR Doel Arnowo. Mendapat laporan itu, Doel Arnowo kemudian meminta Abdul Azis merahasiakan dan jangan pernah mengungkapkan aksinya itu.

"Nah di sana (Kali Mas) Abdul Azis kemudian melapor bahwa telah menembak mati Mallaby. Dan Doel Arnowo yang kemudian pernah menjadi wali kota itu meminta Abdul Azis menyembunyikan rahasia. Sehingga hingga akhir hayatnya Abdul Azis tidak pernah mengaku dia pelakunya," imbuh Kuncar.

Kuncar menambahkan permintaan Doel Arnowo ke Abdul Azis juga tidak pernah diketahui apa alasan pastinya. Namun, dia menilai hal itu berkaitan dengan Konvensi Jenewa terkait larangan menembak seseorang jika bukan dalam situasi perang.

"Pertimbangannya mungkin karena kalau mengakui kita sebagai pelaku (Penembak Mallaby) itu kan tidak gentle. Dalam perjanjian perang Jenewa kan tidak diperbolehkan dalam keadaan tidak perang orang kemudian ditembak," tutur Kuncar.

Dia melanjutkan, usai terbitnya tulisan Amak Altuwy di Surabaya Post, Abdul Azis kemudian banyak dicari oleh wartawan dan para sejarawan. Namun, Abdul Azis tetap bungkam tak mengakui. Bahkan, Kuncar menyebut Abdul Azis sempat menyembunyikan diri dan tinggal di Kota Batu, Malang hingga akhir hayatnya.

"Nah setelah diungkap di tulisannya Altuwy, Abdul Azis ini kemudian banyak dicari untuk dimintai keterangan. Tapi tetap gak mau (Mengaku). Bahkan dia sempat menghindari dan menyembunyikan diri ke Batu dan tinggal di sana," ungkap Kuncar.

"Jadi kalau ada yang berhasil mewawancarai Abdul Azis itu pasti bukan pengakuan dari dirinya. Karena Abdul Azis tetap diam sampai akhir hayatnya. Abdul Azis sendiri meninggal dan dimakamkan di Batu sana," tambah Kuncar.

Meski telah diungkapkan Altuwy, tewasnya Mallaby sendiri masih tetap menjadi teka-teki hingga saat ini. Sebab ada dua versi yang berkembang terkait kematian Mallaby yakni tewas tertembak dan terkena ledakan granat.

"Dalam mobil yang ditumpangi Mallaby itu sebenarnya ada dua orang dari Inggris dan Belanda. Nah mereka sempat mengakui dan menyaksikan bahwa memang ada pemuda yang diduga Abdul Azis itu menembak Mallaby tapi tidak sampai mati. Tapi Mallaby tewas karena terkena ledakan granat yang dilempar," terang Kuncar.

"Pada versi yang lain, Mallaby memang telah tewas karena terkena tembakan Abdul Azis ini dan kemudian disusul dengan lemparan granat. Jadi sebenarnya masih sumir antara dua versi ini sampai sekarang," tandasnya.


Sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5804541/sosok-penembak-jenderal-mallaby-pemicu-pertempuran-10-november-1945-di-surabaya

Rabu, 04 November 2020

Brigadir Jenderal Mallaby Ditembak Arek Ampel

 

PWMU.CO - 05/11/2020 14:15

ALBUM PERJUANGAN

 

Pertempuran dua hari, mobil Brigadir Jendral Mallaby terbakar.

Jenderal Mallaby ditembak mati arek kampung Ampel dalam insiden baku tembak di Jembatan Merah. Perkara ini yang memicu perang 10 November 1945.

PWMU.CO-Pertempuran dua hari, 28-30 Oktober di Surabaya menjadi pemicu perang 10 November 1945 yang lebih dahsyat. Dalam pertempuran ini Brigjen Aubertin Walter Sothern Mallaby, Komandan Brigade 49, tewas dalam baku tembak itu pada 30 Oktober 1945. Mobil buick yang ditumpanginya juga terbakar.

Tentara Inggris datang ke Surabaya untuk mengatur peralihan kekuasaan dari Jepang kepada Sekutu sekaligus mengurus tawanan perang dan melucuti senjatanya. Ini sesuai Perjanjian Yalta yang diadakan oleh negara pemenang Perang Dunia II yaitu AS, Inggris dan Uni Sovyet.

Sekutu tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karena itu Sekutu berencana menyerahkan Indonesia kepada Belanda melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang diakui sebagai penguasa sebelum Jepang.

Brigadir Jenderal Mallaby dan pasukannya berkekuatan 6.000 tentara India mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945 untuk melaksakan tugas itu. Kapal perang yang mengangkut pasukan ini HMS Waveney, HMS Malika, dan HMS Assidious juga menurunkan tank, panser, meriam, di Pelabuhan Tanjung Perak.

Pada 27 Oktober 1945, Sekutu menyebarkan selebaran dari udara lewat pesawat Dakota. Isinya ancaman kepada warga kota. Persons beeing arms and refusing to deliver them to the Allied Forces are liable to be shot. Artinya, orang yang mengangkat senjata dan menolak untuk mengirimkannya ke Pasukan Sekutu dapat ditembak.

Selebaran itu ditandatangani Panglima Divisi Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn. Suasana memanas. Pasukan rakyat menghitung-hitung kekuatan. Keputusannya hanya satu kata lawan. Perlawanan dengan perang gerilya dikoordinasi Komandan Divisi Surabaya, Mayor Jenderal Yonosewoyo.

Gencatan Senjata

Suasana kota memanas. Bung Tomo yang mendirikan siaran Radio Pemberontak sejak 16 Oktober mengobarkan semangat perang pantang menyerah. Terjadilah pertempuran sengit di beberapa sudut kota antara dua pasukan mulai 28 Oktober.


Tentara Inggris terdesak. Lalu Panglima Divisi Jenderal Hawthorn menghubungi pimpinan di Jakarta untuk mengadakan gencatan senjata.

Pada 29 Oktober, terbanglah Presiden Sukarno, Wapres  Mohammad Hatta, dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin ke Surabaya. Lewat mobil Jeep, tiga pimpinan ini ditemani perwira Inggris berkeliling kota meminta perlawanan dihentikan.  

”Ini Presiden Republik Indonesia, Sukarno, memerintahkan berhenti, supaya jangan dilanjutkan pertempuran itu,” kata Bung Karno lewat pengeras suara. Gencatan senjata berhasil dicapai. Pertempuran berhenti.

Soemarsono, Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI) bersama anak buahnya mendekati mobil yang ditumpangi Bung Karno. Bung Karno turun dari mobil.

”Bung, kenapa pertempuran kita hentikan? Inggris sebentar lagi akan kita kalahkan,” kata Soemarsono seperti ditulis Hersutejo dalam buku Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan.

Soemarsono menceritakan, pertempuran dua hari dia bersama pasukannya sudah bisa mendesak pasukan Inggris di daerah Wonocolo. Menurut dia, sehari lagi pertempuran, pasukan kita bisa mengalahkan tentara asing itu.

Bung Karno meminta Menpen Amir Sjarifuddin keluar mobil. Soemarsono kenal Amir yang sama-sama aktivis Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). ”Hal ini sudah didiskusikan dengan kawan-kawan di Jakarta. We have to win the war, not the battle,” ujar Amir menjelaskan.

Pasukan ini lalu mengiringi Bung Karno menuju RRI Surabaya untuk menyerukan seluruh rakyat Surabaya menghentikan perang. Republik tak memusuhi Sekutu yang datang untuk melucuti militer Jepang yang kalah perang.

Terbunuhnya Mallaby

Perundingan gencatan senjata dilanjutkan pada 30 Oktober. Menurut historia.id, petang hari Brigadir Jenderal Mallaby naik mobil buick ditemani perwiranya menuju Gedung Internatio Jembatan Merah dari Gedung Lindeteves (Sekrang Gedung Bank Mandiri Jl. Pahlawan).

Tujuannya memberikan penjelasan gencatan senjata antara dua kubu. Di situ juga ada anggota Biro Kontak Indonesia dan pemimpin Surabaya, seperti Residen Soedirman dan Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Doel Arnowo. Gedung Internatio saat itu menjadi markas pasukan Sekutu.

Mallaby belum turun dari mobil terjadi keributan di luar gedung. Pemuda Indonesia menghendaki perunding Inggris diwakili perwira muda Kapten Shaw. Suasana makin panas ketika sebuah granat dilemparkan dari dalam gedung.

Pemuda membalas dengan tembakan ke arah gedung. Baku tembak pun terjadi. Seorang pemuda bernama Abdul Azis, arek kampung Ampel, mendatangi mobil Mallaby. Dia arahkan pistolnya kepada Mallaby dan dua perwira Inggris. Meletus tembakan beberapa kali.

 Setelah itu Abdul Azis mendatangi Doel Arnowo. ”Wis Cak. Wis tak beresno! (Sudah Cak, sudah saya bereskan),” kata Abdul Azis seperti diceritakan anak angkatnya, M. Chotib.

Apane diberesno? (Apanya yang dibereskan?),” tanya Doel Arnowo.

 ”Sing iku (yang itu),” jawab Abdul Azis sambil menuding mobil Mallaby.

Ngawur ae koen. (Ngawur saja kamu),” sergah Doel Arnowo.

Doel Arnowo meminta Abdul Azis tutup mulut. Setelah itu penembak Mallaby dikatakan menjadi misteri. Namun kematian Mallaby bagi Inggris menyakitkan. Insiden itu menjadi alasan untuk menggempur Kota Surabaya sebagai balas dendam dalam perang 10 November. (*)

Penulis/Editor Sugeng Purwanto

 


Senin, 12 November 2018

Lelaki Pencabut Nyawa Mallaby

ALBUM PERJUANGAN

Politik

Banyak orang mengaku pembunuh Mallaby. Sosok satu ini diyakini sebagai penembak sebenarnya.

Oleh :

Randy Wirayudha

12 November 2018 

Di teras rumahnya di kawasan Ampel, Kota Surabaya, Muhammad Chotib menyambut hangat kedatangan Historia. Mengenakan kaos polo dan sarung, pria paruh baya itu lalu mempersilakan masuk.

Tembok ruang tamunya yang bercat biru diramaikan bingkai-bingkai foto. Sebuah lukisan menyelip di antara kumpulan foto itu. Dari sekian banyak foto di dinding itu, foto dua orang paruh baya paling menyolok. Salah satu pria dalam foto tersebut merupakan figur yang amat populer, yakni Jenderal (Purn.) Abdul Haris Nasution atau yang biasa disapa Pak Nas.

“Itu saya lupa tahunnya. Ada satu kesempatan ayah saya ke Jakarta, sewaktu ingin mengurus tunjangan veterannya. Ketemu Pak Nas di rumahnya,” kata Chotib menjelaskan foto tersebut.

Duduk di sofa hitam ruang tamu itu, Chotib lalu menceritakan lebih lanjut siapa ayahnya, yang ternyata turut terlibat dalam sebuah peristiwa yang berujung pada pertempuran dahsyat di Surabaya, 10 November 1945.

Abah (ayah angkat) saya H. Abdul Azis. Di daerah Ampel sini dikenalnya Haji Azis Endog karena dulu ibu saya satu-satunya yang jualan endog (telur) di Ampel. Dia pejuang tulen, enggak neko-neko orangnya. Kumpulannya saat revolusi ya bareng pentol-pentolnya (orang-orang besar) asli Surabaya, seperti Doel Arnowo, Achijat Alap-Alap, Wirontono,” ujarnya.

Pertempuran 10 November dipantik oleh kematian seorang perwira tinggi Inggris, Brigadier Aubertin Walter Sothern Mallaby, pada 30 Oktober 1945 di depan Gedung Internatio. Chotib meyakini ayahnyalah yang dengan pistolnya menembuskan timah panas ke arah Mallaby hingga tewas.

Kejadiannya berlangsung petang hari. Suasana di sekitar Internatio amat ricuh meski sebelumnya Presiden Sukarno, sebagaimana dilansir Kronik Revolusi Indonesia I: 1945, sudah menyepakati penghentian tembak-menembak antara Inggris sebagai perwakilan Sekutu dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan unsur-unsur pemuda serta rakyat.

Mallaby bersama rombongan Biro Kontak Indonesia serta para pemimpin Surabaya, seperti Residen Soedirman dan Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Doel Arnowo, merapat ke Internatio selepas dari Lindeteves untuk memberi penjelasan penghentian kontak senjata.

Tapi ketika rombongan sudah masuk gedung, Mallaby berada di dalam mobil lantaran para pemuda Indonesia menghendaki perunding Inggris diwakili perwira muda (Kapten Shaw). Tiba-tiba, lemparan granat muncul dari dalam gedung. Suasana yang tenang sontak kembali ramai oleh letusan senjata dari luar gedung.

Begitu baku tembak itu reda, sekira pukul 20.30 malam, Mallaby melihat keadaan dengan melongok dari dalam mobil. Abdul Azis yang tergabung di Pemuda Rakyat Indonesia (PRI) langsung menghampiri mobil yang ditumpangi Mallaby dan dua perwira Inggris lain lalu melepaskan tembakan.

“Seorang Indonesia datang ke jendela (dekat, red.) Brigadir dengan senapan. Dia melepaskan empat tembakan ke kami bertiga,” tulis Kapten RC Smith, yang ada di mobil itu, dalam laporannya yang dikutip JGA Parrott dalam “Who Killed Brigadier Mallaby”, dimuat di Jurnal Indonesia 20 Oktober 1975. “Butuh waktu 15 detik hingga setengah menit bagi Brigadir untuk benar-benar tewas.”

Muhammad Chotib, putra angkat Abdul Azis yang mencabut nyawa Brigadier AWS Mallaby. (Randy Wirayudha/Historia)

“Jadi setelah itu dia lapor ke Cak Doel Arnowo. ‘Wes Cak. Wes tak beresno! (Sudah cak, sudah saya bereskan!’,” tutur Chotib menirukan cerita ayahnya saat melapor ke Arnowo.

’Apane diberesno? Sing Iku (Mallaby)? Ngawur ae kon! (Apanya yang dibereskan? Yang itu (Mallaby)? Ngawur saja kamu!’ Lha ya kena marah dia (Abdul Azis) sama Doel Arnowo,” sambung Chotib.

Meski hingga kini hanya segelintir orang yang mengetahuinya, keterangan Chotib diyakini otentik oleh peneliti sejarah yang juga pendiri Roodebrug Soerabaia, Ady Erlianto Setyawan. “Klaim (Abdul Azis) itu relatif kuat,” kata Ady saat dihubungi Historia. Penulis buku Benteng-Benteng Surabaya dan Surabaya: Di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu? itu yakin lantaran klaim Abdul Azis via penuturan Amak Altuwy, jurnalis keturunan Arab yang juga saksi mata, itu diutarakan saat para pelaku Pertempuran 10 November masih hidup.

“Kalau dia (klaim Abdul Azis) bohong, pasti tokoh-tokoh macam Ruslan Abdulgani yang juga ada di TKP saat Mallaby terbunuh akan buka suara. Dan orang selevel Brigjen Barlan Setiadijaya enggak akan memasukkan kisah itu ke dalam buku dia (10 November 1945: Gelora Kepahlawanan Indonesia) yang isinya studi tentang pertempuran Surabaya yang sangat-sangat komprehensif,” tandas Ady.

Doel Arnowo memerintahkan Azis tutup mulut soal penembakan itu. “Bukan karena takut dianggap penyebab Pertempuran Surabaya, tapi karena memang sudah janjinya pada Doel Arnowo untuk tidak bicara soal itu,” tambah Chotib yang kini ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ampel itu.

 

Sumber : https://www.historia.id/article/lelaki-pencabut-nyawa-mallaby-vxj3a