Rabu, 15 November 1995

Soal Penembak Brigadir Mallaby



ALBUM PERJUANGAN
Surabaya Post, Rabu 15 Nopember 1995
SURAT PEMBACA
Soal Penembak Brigadir Mallaby
Membaca komentar Cak Roeslan Abdulgani tentang orang-orang  yang mengaku menembak Brigadir Jendral Mallaby (Surabaya Post, 10/11). Saya merasa perlu menyampaikan sedikit penjelasan agar pembaca tak salah persepsi terhadap pribadi almarhum H. Abdul Azis.
Memang benar ada beberapa orang yang pernah mengaku sebagai pelaku penembakan Mallaby, tapi arek “Ampel” Suroboyo yang akrab dipanggil “Kaji Azis Endoq” tak pernah secara terbuka mengklaim dirinya sebagai pelaku penembak Brigadir Mallaby, kecuali kepada keluarganya sendiri.
Beliau sangat konsisten dengan janjinya kepada pemimpinnya, Cak Doel Arnowo untuk tak memberitahukan peristiwa itu kepada siapa pun. Setidaknya telah 40 tahun lamanya rahasia itu dipendamnya dengan baik.
Kalaupun pada tahun 1985, Sdr. Amak Altuwy mengungkapkan lewat Surabaya Post, itu merupakan ungkapan kesaksian Sdr. Amak  sebagai pelaku sejarah dalam pertempuran Jembatan Merah.
H. Abdul Azis konsisten dengan janjinya, jangankan mengaku sebagai pelaku penembak Mallaby, terlibat dalam perjuangan pun tak diakuinya. Sikap ini membuat Sdr. Amak penasaran ingin membuktikan secara langsung atas kebenaran kesaksiannya kepada wartawan Surabaya Post, Sdr. Suparto Brata, waktu itu.
Sdr. Suparto Brata sendiri juga menghadapi sikap yang sama ketika bertemu dengan H. Abdul Azis di Kampung Ampel. Namun ia berhasil membuat H. Abdul Azis terpancing emosinya, dan akhirnya tanpa disadari memasuki sasaran intinya.
Satu-satunya pengungkapan yang tulus terjadi di Malang pada tahun 1970. Pada waktu itu Pak Syifun Dewan Harian Daerah (DHD) ’45 Surabaya melaksanakan pendataan penyusunan buku sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo, dengan cara dialogis dan saling mengingatkan peristiwa perjuangan yang pernah dialami bersama maupun terpisah.
Perlu saya tambahkan, teman-teman seperjuangan H. Abdul Azis, antara lain Pak H. Wirontono (saat H. Abdul Azis sakit hernia biaya operasi ditanggung oleh H. Wirontono yang ditangani  oleh Dr. H. Faruk Bakri adiknya, H. Wirontono telah meninggal dunia di Kebayoran Baru Jakarta Selatan pada hari Selasa tanggal 16 Juni 1998), Pak Rakimin, Pak Akhyat “alap-alap”, Pak Soekarsono, dan lainnya yang saya lupa namanya.
Bagaimanapun semasa akhir hidupnya beliau telah berusaha melupakan semua peran dalam upaya merebut kemerdekaan negeri ini dengan segala pengorbanan jiwa, raga, dan hartanya. Itu dibuktikan dengan membakar semua dokumen dan foto penting yang berkaitan dengan perjuangannya.
Konsentrasi perjuangannya sepenuhnya dialihkan untuk keperluan kelangsungan hidup keluarganya. Hingga akhir hayatnya, H. Abdul Azis tak pernah ikut menikmati buah kemerdekaan ini.
Semoga arwah beliau tenang di sisi Allah SWT. Terima kasih.

Drs. H. Muhammadi Chotib
Jl. Ampel Menara 2
Surabaya

Jumat, 10 November 1995

Saksi Mata : H. Abdul Azis Penembaknya



 ALBUM PERJUANGAN
Surabaya Post, Jum’at 10 Nopember 1995
Menguak Misteri Tewasnya Mallaby
Saksi Mata    :  H. Abdul Azis Penembaknya
SETELAH 50 tahun, misteri siapa yang membunuh Mallaby kini ada tambahan titik terang meski banyak versi tentang terjadinya peristiwa  itu. Tapi paling tidak menurut versi Amak Altuwy, saksi mata yang mengetahui persis  siapa yang  sebenarnya menembak Mallaby menyebut nama H. Abdul Azis.
Menurut Amak, Mallaby ditembak oleh seorang anggota PRI, Abdul Azis disebelah timur Kali Mas dekat halte trem listrik, pada 30 Oktober sore hari.
Penembakan pada jarak satu meter itu terjadi seusai perundingan antara pihak Sekutu  yang diwakili Brigadir Jendral Mallaby dengan para pemimpin Surabaya di Gedung Internatio.
Abdul Azis menembak Mallaby, yang waktu itu berada di mobil, dengan senjata vickers Jepang,” kata Amak, Kamis 9 Nopember 1995 malam, dirumahnya.
Setelah melakukan penembakan, Abdul Azis terjun menyelamatkan diri ke Kali Mas. “Saya juga melihat para pemimpin Surabaya seperti Doel Arnowo, Roeslan Abdulgani, dan T.D. Kundan (penterjemah) masuk kali,” ujarnya.
Amak dan seorang temannya begitu melihat terjadinya penembakan terhadap Mallaby, juga langsung lari. Mereka memilih  menyelamatkan diri melewati jembatan  berlari zig zag menghindari desingan peluru. “Saya dan teman saya tak bisa berenang. Saya sendiri heran kok bisa selamat,” kenang Amak.
Ia kemudian merunut asal mula peristiwa penembakan. Waktu itu, 30 Oktober 1945 siang, terlihat iring-iringan tiga mobil yang mengangkut Brigjend Mallaby dan pemimpin-pemimpin  Surabaya dari kantor Gubernur menuju ke Gedung Internatio untuk melakukan perundingan.
Mobil yang ditumpangi Brigjen Mallaby bersama empat perwira Sekutu, mobil kedua mengangkut para pemimpin Surabaya, Doel Arnowo, Roeslan Abdulgani, Mayjen Sungkono, Muhammad dan TD. Kundan (penterjemah). Mobil ketiga dinaiki para pejuang.
Saat itu lapangan sebelah timur Gedung Internatio dipenuhi para pemuda yang datang beramai-ramai untuk mengikuti jalannya perundingan. Sementara di Gedung Internatio berkumpul para tentara Gurkha. Sesampainya di depan sebuah gedung (sekarang Bank Bumi Daya) di sekitar Jembatan Merah, seorang tentara Sekutu dari dalam mobil melambai lambaikan bendera putih sebagai tanda perdamaian. Sekitar lima menit sesudah itu, dua orang  turun dari mobil berjalan menuju ke Gedung Internatio. Tak lama kemudian seorang diantaranya kembali ke mobil Mallaby.
Setelah itu dengan beriring-iringan, ketiga mobil itu datang ke Gedung Internatio untuk melakukan perundingan. Selama Brigjen Mallaby dan wakil-wakil pemimpin Surabaya berunding, para pemuda menunggu hasilnya di lapangan. Harapan mereka satu, tentara Sekutu ditarik dari kawasan Jembatan Merah ke Pelabuhan Tanjung Perak.
Sekitar pukul 17.00 perundingan usai. Brigjen Mallaby beserta rombongan para pemimpin Surabaya  dan para pejuang keluar gedung. Dengan mobil mereka masing-masing, rombongan lewat jalan sebelah utara lapangan, lalu menyusuri sungai, menyeberangi jembatan lalu belok ke arah utara lewat jalan sebelah timur sungai.
Di jalan ini, dekat halte trem listrik, mobil Mallaby dihentikan para pemuda. Pemuda menuntut pada Mallaby agar tentara Sekutu hari itu juga ditarik dari Jembatan Merah ke Pelabuhan Tanjung Perak. Dengan tergopoh-gopoh Kundan turun dari mobil menuju mobil Mallaby untuk melakukan tugas penterjemahan.
Seorang pengawal Mallaby bersama Muhamad dan seorang lagi, kembali ke Gedung Internatio untuk membicarakan tuntutan pemuda. Namun tak lama kemudian, Kundan terlihat bergegas kembali lagi ke mobil Mallaby. Sekitar 15 menit kemudian lapangan membara. Dari atas Gedung Internatio, pasukan Gurkha melempar granat dan menembakkan senapan.
Tak lama berselang para pejuang mulai mendekati mobil Mallaby di antaranya anggota PRI Surabaya Utara, Abdul Azis. Dari jarak 1 meter, dia menembakkan pistol vickers ke arah Mallaby, lalu ke seorang pengawalnya, hingga tewas.
Menurut Amak, sopir Mallaby akhirnya juga tewas, namun dia tak tahu siapa yang menebak. Sedangkan seorang tentara Sekutu lagi selamat, karena ketika terjadi penembakan dia berada di Gedung Internatio.


Sementara itu wilayah di sekitar Gedung Internatio  tetap membara. Tembak menembak  antara tentara Gurkha dan pejuang tetap berlangsung. Ratusan pejuang jadi korban karena mereka hanya bersenjata karabenj Jepang yang sederhana.
Tentara Gurkha sedikit yang tewas. Selain berlindung di Gedung Internatio yang begitu kokoh dindingnya, mereka juga membawa senjata yang lebih modern. “Gedung Internatio begitu kokoh, peluru yang dimuntahkan dari senapan pejuang terlempar kembali,” ujar Amak. Tembakan tentara Gurkha, begitu membabi buta. Ini terbukti empat perawat wanita yang dikirim dari Rumah Sakit Simpang (CBZ) ikut tertembak tewas. Padahal mereka berpakaian seragam sambil melambai lambaikan bendera palang merah.
“Saya menyaksikan peristiwa itu sampai pukul 23.00. Sesudah itu saya tak tahu yang terjadi, sebab saya ke markas Pemuda Republik Indonesia Ranting Ampel di Jl. Nyamplungan, “ ujarnya.
Tapi esoknya, ketika Amak kembali ke lokasi dimana tembak menembak sudah berhenti masih ditemukan mobil Mallaby yang hangus. Juga mayat Mallaby dan pengawalnya dalam keadaan hangus. Amak mengaku sejak saat itu dia tak pernah berjumpa lagi dengan Abdul Azis.

Menurut Amak, sebelumnya tak kenal begitu dekat dengan Abdul Azis. Dia tahu sosok Abdul Azis  karena bertetangga. “Saya tinggal di Ampel Kejeron, dan Abdul Azis di Ampel Culik (kini Ampel Menara), “ kata dia.
Dia berharap jika peristiwa perjuangan 10 Nopember akan dituliskan, para saksi sejarah dikumpulkan untuk dimintai penjelasan. “Sampai saat ini saya belum pernah dimintai keterangan, “ ujar Amak.




Telah Tiada
Abdul Azis lahir di Bangkalan Madura tahun 1912, sejak tahun 1974 setelah bisnisnya bangkrut akhirnya pindah dari Surabaya dan tinggal di tempat istri keduanya yang dinikahi awal tahun 1963 bernama Sumarni (55) berasal yaitu di Dusun Junggo Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. *)Dengan istri keduanya ini dia memiliki 3 orang anak yang masing-masing bernama Akhmad Effendi (32), Amelia Ersita (28) dan Arif Erwinadi (26). Pada tanggal 16 Juli 1989 ia telah meninggal dunia, setelah mengalami stress berat karena pengajuan untuk menjadi veteran atas saran teman-teman seperjuangannya ditolak.
“Waktu itu Abah stress berat, karena saran teman-temannya untuk mengajukan menjadi veteran ditolak oleh pemerintah. Padahal Abah sendiri sebelumnya tak mau mengurusnya, yang akhirnya ditolak,” kata Muhammad Chotib, putra angkat Abdul Azis dengan istri pertama Hj. Siti Mariam, Kamis (9/11) malam, dirumahnya.
Dalam keadaan stress itu, ungkap Chotib, akhirnya semua bukti-bukti yang memperkuat keikutsertaan Abdul Azis dalam perjuangan itu dibakar habis termasuk foto-foto saat dia berjuang. “Sebagai orang Madura, Abah orangnya memang sangat temperamental, sehingga ia bisa melakukan apa saja yang tak terduga, termasuk membakar semua dokumen yang punya nilai amat penting itu. Seingat saya pangkat Abah terakhir, Letnan dua MBAD (Markas Besar Angkatan Darat),” katanya.

Menurut Chotib, Abah waktu itu sengaja tak mengungkapkan kalau dirinya yang melakukan penembakan terhadap Mallaby, karena setelah Abah berhasil menembak Mallaby, ia menceritakannya kepada Cak Doel Arnowo kalau dirinya yang menembak Mallaby. Cak Doel Arnowo berpesan supaya Abah jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang peristiwa itu.
Sementara itu, versi lain menyebutkan yang menembak Mallaby adalah pemuda bernama Ook Hendranata. Dalam versi ini diceritakan, R.P. Soepeno Joedowidjojo anggota TKR Sambongan, berlindung di bawah mobil Soengkono. Saat itu ada pemuda mengusik kakinya dan mengatakan ingin membunuh Mallaby. Begitu ia pergi, terdengar tembakan.
Kemudian ia mengatakan Mallaby tewas. Tahun 1977, Soepeno mengenali pemuda itu sebagai karikaturis Ook Hendranata. “Hanya tiga orang yang tahu pembunuh Mallaby, yaitu Ook Hendranata, Soepeno, dan Soengkono.”
Menanggapi versi lain itu, Chotib mengatakan, “Itu sah-sah saja, karena waktu itu peristiwanya begitu cepat dan dalam keadaan darurat perang, jadi tak banyak yang tahu siapa sebenarnya yang menembak Mallaby. Selain kepada Cak Doel Arnowo, Abah juga pernah mengungkapkan peristiwa dia menembak Mallaby kepada tiga orang dari Dewan Harian Daerah Angkatan ’45 sekitar tahun 1970-an di Malang, salah satunya bernama Pak Syifun.”
“Ketika Pak Syifun menyatakan kembali kepada Cak Doel Arnowo waktu itu, Cak Doel Arnowo langsung mengatakan dengan spontan dihadapan Abdul Azis Lha Iki Lak Uwonge,” cerita Chotib menirukan ungkapan Cak Doel Arnowo.
Karena Abdul Azis telah meninggal dunia, ia tak bisa lagi menceritakan siapa sebenarnya yang menembak Mallaby. “Tapi mungkin saksi mata yang masih hidup bisa menceritakannya kembali. Mungkin Pak Abdul Harris Nasution yang pernah bertemu dengan Abah ketika almarhum dalam keadaan stress berat, sebab beliau  menceritakan panjang lebar tentang peristiwa itu,” katanya.
Dr. Roeslan Abdulgani yang dihubungi Jum’at (10/11) pagi mengatakan, tak yakin kalau Abdul Azis  yang menembak Mallaby. “Harus hati-hati menyebut pelaku, karena banyak orang  yang mengaku sebagai penembak Mallaby. Berapa usia pelaku waktu itu terjadi, juga harus jadi pertimbangan,” katanya. (M. Soedarsono, Sukemi)

*) Bagi pembaca kliping koran ini  yang kebetulan ada nama-nama yang  mirip dengan nama-nama teman-teman seperjuangan Abah Abdul Azis bila ingin berhubungan dengan anak-anaknya almarhum Abah Abdul Azis silahkan berhubungan dengan anak pertamanya Sdr. Akhmad Effendi. Yang saat ini tinggal di Jl. Raya Arjuno No. 94 Dusun Junggo RT 01 RW 10 Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu Jawa Timur dengan No Hp 082140403490 atau 082141331528. Atau Arif Erwinadi anak ketiganya yang tinggal di Dusun Junggo Desa Tulungrejo Kota Batu juga.


Kamis, 17 Agustus 1995

Biografi Kaji Ajis Penembak Brigjend AWS Mallaby (3)

ALBUM PERJUANGAN
Profil Pejuang Sejati
Kaji Ajis Endhog
Arek ‘Ampel’ Suroboyo



Pengakuan tanpa emosional yang tulus yang pernah diungkapkan oleh H. Abdul Azis, terjadi pada sekitar tahun 1970/1971 di rumah kontrakannya di Kayutangan (Jln. Jend. Basuki Rahmat saat ini) Kota Malang.

Ketika itu beliau di datangi tiga orang dari Dewan Harian Daerah (DHD) Angkatan 1945 Surabaya untuk mengadakan penelitian  dalam rangka penulisan sejarah perjuangan Arek-Arek Suroboyo, salah satunya bernama Bapak Syifun. Melihat suasana pertemuannya yang penuh canda dan nostalgia, sepertinya Pak Syifun ini memang sahabat akrab beliau yang sudah lama tidak pernah berkomunikasi.

Pak Syifun bertindak sebagai pewawancara, sedangkan lainnya sebagai pencatat. Dengan metode pendekatan dialogis dan saling mengingatkan suatu peristiwa  masa lalu, yang dialami bersama mapun terpisah, dalam suasana yang mirip  kangen-kangenan tersebut membuat proses wawancara berlangsung lancer.

Salah satu hasil wawancaranya adalah tentang siapa penembak Brigjend A.W.S. Mallaby itu, yang kemudian diuji silang kepada Cak Dul Arnowo di kediamannya di Malang (Jln. Dempo ?). Ketika itu Cak Dul Arnowo, dengan dialek khas Suroboyo-an menjawab sambil memberi isyarat telunjuk yang ditujukan kepada H. Abdul Azis, “Lha iki lak uwonge !”  (Ini kan orangnya !).

Mengenai buku memori perjuangan atas hasil wawncara tersebut, hingga saat ini tidak jelas apakah pernah diterbitkan atau memang sengaja di hentikan, dengan pertimbangan klasik demi untuk alasan kerahasiaan dan keamanan Negara dari tudingan Negara-negara yang terlibat pertempuran di Surabaya itu.

Kepada penulis, beliau memang sering mengungkapkan segala peristiwa yang dialami selama masa perjuangan, diantaranya termasuk  peristiwa terbunuhnya Brigadir Jendral A.W.S. Mallaby tersebut.

Ketika penulis menyampaikan  adanya pengakuan dari orang lain sebagaimana dimuat di majalah Tempo, beliau menganggap mereka itu tidak mengerti dampak pengungkapan atas kejadian tersebut bagi Negara. Pada waktu beliau menceritakan  peristiwa tersebut kepada penulis di tahun 1970, beliau punya anggapan bahwa bila pengungkapan kejadian tersebut telah lewat dari 25 tahun, maka pelakunya bebas dari tuntutan. Entah dari mana sumber hukumnya, yang jelas pengakuan beliau memang diungkapkan  setelah 25 tahun, itu pun dalam keadaan emosional.


Sekitar bulan April 1989, H. Abdul Azis berkunjung ke Jakarta menemui cucu keponakannya bernama  H. Achmad Sjukry Suaidy Drs. Ec. Putera dari KH. Mochammad Saleh Suaidy. Ulama sekaligus Perintis Kemerdekaan  Republik Indonesia yang dulu pernah dipercaya sebagai Sekjend Departemen Agama di masa  Presiden Soekarno. Beliau ini sering ditunjuk sebagai Juru Nikah (Penghulu / Modin) Bapak Presiden Soekarno bila menikah lagi setelah pernikahannya dengan Ibu Fatmawati. Kehadiran almarhum sangat dihargai  sebagai orang yang dituakan dalam struktur keluarga di Bangkalan, Madura.


H. Achmad Sjukry Suaidy  sebagai eksekutif muda ia memang terbilang orang super sibuk, maklumlah banyak jabatan yang harus diurusi, termasuk sebagai salah seorang anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang dipimpin  oleh Bapak Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie. Meskipun demikian, sebagai rasa hormat kepada orang yang dituakan, ia pun rela mengorbankan waktunya untuk menemani ‘Eyang Kakung’-nya selama di Jakarta. Ihwal penghargaan pemerintah atas perjuangan yang pernah dialami oleh Eyangnya itu, tak luput dari pertanyaan sang cucu. Almarhum lantas menceritakan segala pengalaman pahitnya, termasuk usaha dari teman-teman Almarhum dalam menguruskan penghargaan bagi dirinya kepada instansi terkait.

Mendengar cerita tersebut, ia berusaha meredam emosi beliau dengan memberikan penjelasan-penjelasan perihal hokum perang dan politik Negara. Tetapi H. Abdul Azis merasa kurang puas mendapat penjelasan dari cucu keponakannya tersebut. Untuk melegakan hati beliau, maka Sdr Sjukry menawarkan agar menemui langsung pakar pejuang Kemerdekaan RI, Jendral Besar TNI/AD (Purn) Abdul Haris Nasution.

Bersama Sdr. Sjukry akhirnya niat berjumpa Jendral Besar (Purn.) A.H. Nasution (Pak Nas) terpenuhi. Perihal pengalaman pribadi di masa perjuangan beliau, termasuk peristiwa tragedy tertembaknya Brigjend A.W.S. Mallaby di Jembatan Merah Surabaya, semuanya diungkapkan secara tuntas. Lantas Pak Nas memberikan wejangan moral dan penjelasan pangjang lebar mengenai hokum perang yang pernah diutarakan cucu keponakannya itu.  Pak Nas juga menyampaikan bahwa teman beliau, sopir dari  Brigjend TNI (Purn.) H. Isa Idris yang juga seorang pejuang tidak pernah mendapatkan pensiun / tidak diakui sebagai veteran pejuang oleh pemerintah RI. Setelah mendengar penjelasan Pak Nas, H Abdul Azis mengaku merasa puas dan jiwanya merasa lebih tenang.

Ibu Sumarni, istri beliau, menambahkan bahwa Pak Nas sangat menyayangkan keputusan H. Abdul Azis yang telah membakar habis semua dokumen-dokumen penting miliknya. Konon Almarhum menyadari  dan sangat menyesali kekeliruan atas tindakan pembakaran dokumen tersebut. Dan penyesalan itu, memang timbul  setelah mendapatkan bimbingan moral dari Pak Nas.

Barangkali dokumentasi yang masih tersisa saat ini masih dapat dilihat dalam film dokumenter produksi PFN (Perusahaan Film Negara), yaitu film rekonstruksi  sejarah pertempuran 10 november 1945 di Surabaya. Dalam film tersebut H. Abdul Azis muda berperan  sebagai seorang pemuda pejuang yang sedang santai bermain catur bersama pemuda lainnya, dan ketika tiba-tiba  mendapat panggilan perang, segera mereka berhamburan menuju medan laga. Biasanya TVRI Stasiun Pusat menayangkan film documenter ini pada hari besar nasional  Hari Pahlawan, setiap tanggal 10 November.

Kondisi ekonomi H. Abdul Azis memang tak pernah berubah, hingga kedua puteranya berhasil lulus SMA di Batu. Beliau memilih tetap bertahan di dusun Junggo desa Tulungrejo Kota Batu bersama istrinya yang dengan setia menemaninya hingga akhir hayatnya pada tanggal 16 Juni 1989. Almarhum H. Abdul Azis meninggal dunia setelah mengalami sedikit gangguan kesehatan.

Perlu diketahui, meskipun usia H. Abdul Azis tergolong kelompok ‘lanjut usia’, namun kondisi beliau tetap tegar dan sama sekali tidak  mengalami pikun. Kecuali keriput dahi, raut wajahnya yang sebenarnya sudah keriput karena tua, menjadi tampak lebih muda  lantaran menggunakan gigi palsu yang dipasang sejak tahun 1960-an. Warna rambutnya terkadang mendua, lantaran polesan semir rambut. Perawakannya masih tetap kekar, tak susut karena usia tua. Bahkan pada usianya yang senja itu, beliau masih sering mondar-mandir ke Surabaya atau ke Jakarta bersilahturrahmi kepada sanak keluarganya.

Beliau dimakamkan di kramat resmi Dusun Junggo Desa Tulungrejo Kota Batu dengan diantar putera dan kerabat keluarga dari pihak istrinya. Upacara pemakaman berlangsung sangat sederhana, tapi khidmat sesuai syari’at Islam. Tak ada pembacaan riwayat hidup dan jasa perjuangan, kecuali bacaan talqin dan tahlil. Tak ada suara tembakan salvo atau iringan genderang dan terompet kebesaran militer, kecuali sesengukan isak tangis keikhlasan istri dan  putera-puteri yang ditinggalkan. Ketika jasadnya diturunkan ke liang lahat, tak ada naungan bendera Sang Saka Merah Putih yang dulu pernah dibanggakan dan dipertahankannya mati-matian, kecuali selembar kain batik usang milik istrinya. Tak diperlukan inspektur upacara dengan tetek bengek  tata protokolernya, cukup dengan komando dan kumandang do’a yang dipimpin seorang moden desa yang sudah renta.

Innalillahi wa inna illaihi roji’un ! Selamat Jalan Sang Pejuang Sejati, di pangkuang ibu pertiwi dan di hadapan Allah  Swt, engkau adalah syuhada yang sangat berjasa bagi bangsa dan Negara. Insya Allah nikmat dan ketenangan yang sejati, senantiasa terlimpah di sisi Allah Yang Maha  Mengetahui Segalanya !  Amin !.



Surabaya, 17 Agustus 1995




Mochammad Chotib