ALBUM
PERJUANGAN
OLEH: BATARA R. HUTAGALUNG
- Rabu, 08 November 2017, 13:38 WIB
SETIAP tahun pada tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati
tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan. Namun nampaknya tidak banyak yang
mengetahui penyebabnya, mengapa Inggris yang ditugaskan oleh Tentara Sekutu (Allied
Forces), pemenang perang dunia kedua untuk melucuti tentara Jepang dan
memulhkan keamanan, ternyata mengerahkan pasukan terbesarnya setelah usai
perang dunia kedua.
Dua alasan yang dikemukakan oleh Mayjen R. Mansergh, Panglima Divisi 5 Inggris
dalam ultimatumnya tertanggal 9 November 1945 ternyata tidak benar. Kalau
begitu apa alasan yang sebenarnya, sehingga tentara Inggris selama tiga minggu
membom kota Surabaya secara membabi-buta, yang mengakibatkan tewasnya sekitar
20.000 penduduk, sebagian terbesar adalah penduduk sipil, termasuk wanita dan
anak-anak, 150 ribu penduduk mengungsi ke luar kota.
Yang juga tidak pernah dibahas adalah dampak dari pemboman
tersebut, di mana terjadi kejahatan perang (war crimes) dan kejahatan
atas kemanusiaan (crimes against humanity) yang telah dilakukan oleh tentara
Inggris. Selain itu, apa pengaruh pertempuran Oktober-November 1945 di Surabaya
terhadap perjuangan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang
telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945?
Pertempuran 28 sampai 30 Oktober 1945
Brigade 49 dari Divisi 23 Tentara Inggris di bawah pimpinan
Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tiba di Surabaya tanggal 25 Oktober 1945.
Secara resmi, tugas pokok yang diberikan oleh pimpinan Allied Forces kepada
Supreme Commander Allied Forces South East Easia Command (Panglima Tertinggi
Tentara Sekutu Komando Asia Tenggara), Vice Admiral Lord Louis Mountbatten
adalah:
1.
melucuti tentara
Jepang serta mengatur kepulangan kembali ke negaranya (The disarmament and
removal of the Japanese Imperial Forces),
2.
membebaskan para
tawanan serta interniran Sekutu yang ditahan oleh Jepang di Asia Tenggara
(RAPWI - Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees), termasuk di
Indonesia,
3.
serta
menciptakan keamanan dan ketertiban (Establishment of law and order).
Namun ternyata ada tugas rahasia yang dilakukan oleh tentara Inggris dengan
mengatasnamakan Sekutu yaitu mengembalikan Indonesia sebagai jajahan kepada
Belanda.
Di Surabaya, setelah dilakukan perundingan yang panjang dan alot, akhirnya pada
tanggal 26 Oktober 1945 dicapai kesepakatan yang isinya:
1.
Yang dilucuti
senjata-senjatanya hanya tentara Jepang. (The disarmament shall be carried
out only in the Japanese forces).
2.
Tentara Inggris selaku
wakil Sekutu akan membantu Indonesia dalam pemeliharaan keamanan dan
perdamaian. (The allied forces will assist in the maintenace of law, order
and peace).
3.
Setelah semua tentara
Jepang dilucuti, maka mereka akan diangkut melalui laut. (The Japanese
forces after being disarmed shall be transported by sea).
Agar kerjasama dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka segera akan dibentuk suatu Contact Bureau. Selain itu tentara Sekutu berjanji tidak membawa tentara Belanda dan juga mengatakan bahwa di dalam tentara Sekutu tidak terdapat tentara Belanda.
Pada 27 Oktober 1945 sekitar pukul 11.00, satu pesawat terbang Dakota yang datang dari Jakarta, menyebarkan pamflet di atas kota Surabaya. Isi pamflet, atas instruksi langsung dari Mayor Jenderal Hawthorn, panglima Divisi 23 yang disebarkan di seluruh Jawa, memerintahkan kepada seluruh penduduk untuk dalam waktu 2 x 24 jam menyerahkan semua senjata yang mereka miliki kepada Perwakilan sekutu di Surabaya, yang praktis ketika itu hanya diwakili tentara Inggris. Dalam seruan tersebut tercantum antara lain, “Supaya semua penduduk kota Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan kembali semua senjata dan peralatan Jepang kepada tentara Inggris”. Barangsiapa yang memiliki senjata dan menolak untuk menyerahkannya kepada tentara Sekutu, akan ditembak di tempat (persons beeing arms and refusing to deliver them to the Allied Forces are liable to be shot).
Dikabarkan, bahwa Mallaby sendiri terkejut dengan isi pamflet, karena jelas bertentangan dengan kesepakatan antara pihak Inggris dan Indonesia tanggal 26 Oktober, sehari sebelum pamflet tersebut disebarkan. Namun pimpinan brigade Inggris mengatakan, mereka terpaksa melakukan perintah atasan. Mereka mulai menahan semua kendaraan dan menyita senjata dari pihak Indonesia. Maka berkobarlah api kemarahan di pihak Indonesia, karena mereka menganggap pihak Inggris telah melanggar kesepakatan yang ditandatangani tanggal 26 Oktober.
Di samping itu langkah-langkah Inggris yang akan mendudukkan Belanda kembali sebagai penguasa di Indonesia kian nyata. Gubernur Suryo segera mengirim kawat yang disusul dengan laporan panjang lebar ke Pemerintah Pusat di Jakarta. Jawaban baru diterima sekitar pukul 15.00 dan berbunyi:
Diminta kebijaksanaan Pemerintah Jawa Timur setempat agar pihak ketentaraan dan para pemuda-pemudanya tidak melakukan perlawanan terhadap tentara Sekutu.
Gubernur Suryo tidak berhasil menemui Mayor Jenderal drg. Mustopo, lalu menyerahkan kawat tersebut kepada Residen Sudirman. Tepat pukul 17.00, Residen Sudirman tiba di markas TKR Surabaya di Jalan Embong Sawo dan menyerahkan kawat tersebut kepada komandan Divisi, Mayor Jenderal Yonosewoyo. Tak lama kemudian datang Kolonel Pugh yang menyampaikan pendirian Brigjen Mallaby mengenai seruan dalam pamflet tersebut, bahwa Mallaby akan melaksanakan tugas sesuai perintah dari Jakarta. Pugh kembali ke markasnya tanpa mendapat jawaban dari pimpinan TKR.
Setelah kepergian Kolonel Pugh, dilakukan perundingan sekitar setengah jam antara Residen Sudirman dan Panglima Divisi Yonosewoyo, dengan keputusan: Komando Divisi Surabaya akan segera memberikan jawaban terhadap ultimatum tersebut secara militer.
Dalam pertemuan kilat pimpinan TKR Surabaya, dibahas berbagai pertimbangan dan diperhitungkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Apabila mereka menyerahkan senjata kepada Sekutu, berarti pihak Indonesia akan lumpuh, karena tidak mempunyai kekuatan lagi. Apabila tidak menyerahkan senjata, ancamannya akan ditembak di tempat oleh pasukan Inggris/sekutu.
Kubu Indonesia memperhitungkan, pihak Inggris tidak mengetahui kekuatan pasukan serta persenjataan lawannya. Sedangkan telah diketahui dengan jelas, bahwa kekuatan Inggris hanyalah satu brigade, atau sekitar 5.000 orang. Artinya, kekuatan musuh jauh di bawah kekuatan Indonesia di Surabaya dan sekitarnya, yang memiliki pasukan bersenjata kurang lebih 30.000 orang. Jenis senjata yang dimiliki mulai dari senjata ringan hingga berat, termasuk meriam dan tank peninggalan Jepang yang, sebagian terbesar masih utuh. Selain kekuatan pasukan terbatas, pasukan Inggris yang baru dua hari mendarat, dipastikan tak mengerti liku-liku kota Surabaya.
Sesuai dengan strategi Carl von Clausewitz, pakar teori militer Prusia, bahwa: Angriff ist die beste Verteidigung (Menyerang adalah pertahanan yang terbaik), maka dengan suara bulat diputuskan: Menyerang Inggris!.
Perintah diberikan langsung oleh Komandan TKR Surabaya, Mayor Jenderal Yonosewoyo. Subuh baru merekah. Serangan besar-besaran pun mulai dilancarkan pada hari Minggu, 28 Oktober pukul 4.30 dengan satu tekad, tentara Inggris yang membantu Belanda, harus dihalau dari Surabaya, dan penjajah harus dipaksa angkat kaki dari bumi Indonesia. Praktis seluruh kekuatan bersenjata Indonesia yang berada di Surabaya bersatu. Juga pasukan-pasukan dan sukarelawan Palang Merah/kesehatan dari kota-kota lain di Jawa Timur antara lain dari Sidoarjo, Gresik, Jombang dan Malang berdatangan ke Surabaya untuk membantu.
Hal ini benar-benar diluar perhitungan Inggris, terutama mereka tidak
mengetahui kekuatan dan persenjataan pihak Indonesia. Selama ini, informasi
yang mereka peroleh mengenai Indonesia, hanya dari pihak Belanda, sedangkan
Belanda sendiri diperkirakan tidak mengetahui perkembangan yang terjadi di
Surabaya dan di Indonesia pada umumnya sejak Belanda menyerah kepada Jepang
tanggal 8 Maret 1942. Sebagian terbesar dari mereka diinternir oleh Jepang, dan
baru dibebaskan pada akhir Agustus 1945. Nampaknya, informasi yang diberikan
oleh Belanda kepada Inggris sangat minim, atau salah.
Di samping BKR/TKR yang menjadi cikalbakal TNI, juga tercatat sekitar 60
pasukan dan laskar yang didirikan oleh para pemuda atau karyawan berbagai
profesi, Pasukan Pelajar (TRIP), Pasukan BKR Tanjung Perak, Pasukan Kimia TKR,
Pasukan Genie Tempur (Genie Don Bosco), Pasukan BKR Kereta Api, Pasukan BKR
Pekerjaan Umum, Pasukan Sriwijaya, Pasukan Buruh Laut, Pasukan Sawunggaling,
TKR Laut, Barisan Hizbullah, Lasykar Minyak, TKR Mojokerto, TKR Gresik, Pasukan
Jarot Subiantoro, Pasukan Magenda Bondowoso, Pasukan Sadeli Bandung.
Selain itu ada pula pasukan-pasukan pembantu seperti Corps Palang Merah, Corps
Kesehatan, Corps PTT, Corps Pegadaian, bahkan ada juga Pasukan Narapidana Kalisosok,
dll. Puluhan kelompok pemuda yang berasal dari suku tertentu membentuk pasukan
sendiri, seperti misalnya Pasukan Pemuda Sulawesi (KRIS-Kebaktian Rakyat
Indonesia Sulawesi), Pasukan Pemuda Kalimantan, Pemuda Ponorogo, dan juga ada
Pasukan Sriwijaya, yang sebagian terbesar terdiri dari pemuda mantan Gyugun
(sebutan Heiho di Sumatera) dari Batak dan ada juga yang dari Aceh. Pasukan
Sriwijaya ini telah mempunyai pengalaman bertempur melawan tentara Sekutu di
Morotai, Halmahera Utara.
Bukan saja BKR/TKR yang menjadi cikal bakal Angkatan Darat, melainkan dibentuk
juga pasukan Laut dan Udara. Tercatat a.l. Pasukan BKR Laut/TKR Laut Tanjung
Perak, Pasukan Angkatan Muda Penataran Angkatan Laut, Pasukan BKR/TKR Udara di
Morokrembangan.
Selain pasukan-pasukan yang bersenjata, diperkirakan lebih dari 100.000 pemuda
dari Surabaya dan sekitarnya, hanya dengan bersenjatakan bambu runcing dan
clurit ikut dalam pertempuran selama tiga hari. Kebanyakan dari mereka yang
belum memiliki senjata, bertekad untuk merebut senjata dari tangan tentara
Inggris.
Selain para wanita yang rela berkorban sebagai anggota Palang Merah, juga tak
dapat diabaikan peran serta ibu-ibu juru masak dan yang membantu di dapur umum
yang didirikan untuk kepentingan para pejuang Republik Indonesia. Para pejuang
dan sukarelawan itu bukan hanya penduduk Surabaya, melainkan berdatangan dari
kota-kota lain di sekitar Surabaya, seperti Gresik, Jombang, Sidoarjo,
Pasuruan, Bondowoso, Ponorogo bahkan dari Mojokerto, Malang, pulau Madura, dan
Bandung.
Inggris Mengibarkan Bendera Putih
Serbuan ke delapan pos pertahanan Inggris di tengah kota dilengkapi dengan
blokade total: Aliran listrik dan air di wilayah pos pertahanan Inggris
dimatikan. Truk-truk yang mengangkut logistik untuk pasukan Inggris, terutama
yang akan mengantarkan makanan dan minuman bisa dicegah. Kekacauan demi
kekacauan menyebabkan suplai yang dijatuhkan pesawat Inggris dari udara, ikut
pula terganggu. Tidak sedikit yang meleset dari sasaran, bahkan boleh dikatakan
hampir semua jatuh ke tangan pihak Indonesia.
Dalam penyerbuan itu, korban di pihak Indonesia tidak sedikit, sebab berbagai
pasukan "khususnya laskar pemuda tanpa pendidikan militer dan pengalaman
tempur, hanya bermodalkan semangat dan banyak yang hanya bersenjatakan clurit atau
bambu runcing, begitu bersemangat maju menggempur musuh yang notabene tentara
profesional.
Dengan bermodalkan keberanian serta semangat ingin mempertahankan kemerdekaan
dan tak mau dijajah lagi, para pejuang Indonesia akhirnya mampu
memporak-porandakan kubu Inggris. Satu hari satu malam tidak menerima kiriman
makanan dan minuman, serta korban yang jatuh di pihak mereka sangat besar,
pasukan Inggris akhirnya mengibarkan bendera putih, meminta berunding.
Mallaby menyadari, bila pertempuran dilanjutkan, tentara Inggris akan disapu
bersih, seperti tertulis dalam kesaksian Capt. R.C. Smith: on further
consideration, he (Mallaby, red.) decided that the company had been in so bad a
position before, that any further fighting would lead to their being wiped out..."
Walaupun ia sadari tidak ada pilihan lain, tetapi ketika persyaratan yang
diajukan Indonesia antara lain Inggris harus angkat kaki dari Surabaya dan
meninggalkan persenjataan yang ada di pos-pos pertahanan yang telah dikepung,
Mallaby menilai tampaknya terlalu berat baginya sebagai pimpinan tentara yang
baru memenangkan Perang Dunia II untuk melakukan hal itu.
Presiden Sukarno Diminta Melerai Insiden Surabaya
Ternyata pada hari pertama penyerbuan rakyat Indonesia terhadap pos-pos
pertahanan tentara Inggris di Surabaya, pimpinan tentara Inggris menyadari,
bahwa mereka tidak akan kuat menghadapi gempuran rakyat Indonesia di Surabaya.
Mallaby (lihat kesaksian Kapten R.C. Smith) memperhitungkan, bahwa Brigade 49
ini akan wiped out (disapu bersih), sehingga pada malam hari tanggal 28
Oktober 1945, mereka segera menghubungi pimpinan tertinggi tentara Inggris di
Jakarta untuk meminta bantuan. Menurut penilaian pimpinan tertinggi tentara
Inggris, hanya Presiden Sukarno yang sanggup mengatasi situasi seperti ini di
Surabaya. Kolonel. A.J.F. Doulton menulis: The heroic resistance of the
british troops could only end in the extermination of the 49th Brigade, unless
somebody could quell the passion of the mob. There was no such person in
Surabaya and all hope rested on the influence of Sukarno. (Perlawanan
heroik tentara Inggris hanya akan berakhir dengan musnahnya Brigade 49, kecuali
ada yang dapat mengendalikan nafsu rakyat banyak itu. Tidak ada tokoh seperti
itu di Surabaya dan semua harapan tertumpu pada pengaruh Sukarno).
Panglima Tertinggi Tentara Sekutu untuk Asia Timur, Letnan Jenderal Sir Philip
Christison meminta Presiden Sukarno untuk melerai incident di Surabaya.
Pimpinan tentara Inggris menilai, situasi di Surabaya sangat mengkhawatirkan
bagi mereka, sehingga Presiden Sukarno yang sedang tidur, didesak agar segera
dibangunkan. Dalam Autobiografi yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno
menuturkan:
Tukimin yang setia berbisik-bisik. Itu ada seorang yang menamakan dirinya
Pembantu Khusus (ADC - aide-de-camp = perwira pembantu.) dari komandan Tentara
Inggris. Ia menyatakan, bahwa ada persoalan yang amat penting. Kepadanya telah
saya jawab, bahwa Bapak sedang tidur, tetapi ia mendesak agar supaya saya
membangunkan Bapak.
Akhirnya setelah saya bangun, selama 30 menit terpaksa berbicara melalui
telepon. Tetapi tidak sepatah kata pun apa yang sedang menggelisahkan perasaan
saya dari pembicaraan telepon itu saya ungkapkan kepada intern keluarga saya,
baik Fatmawati maupun kepada Tukimin. Saya hanya menyatakan bahwa besok pagi
saya akan ke Surabaya dengan kapal terbang militer kepunyaan Inggris. Dan
kemudian saya kembali ke kamar tidur, dan pelan-pelan menutup pintu.
Saya dengan Hatta, yang baru saja dipilih menjadi Wakil Presiden, selama lebih
kurang 2 jam berbicara dengan pihak Sekutu Inggris, tetapi pihak Inggris
mengharapkan saya, sebab saya dibutuhkan. Dan saya tahu, bahwa tidak akan ada
sesuatu pun yang akan dapat menghentikan persoalan ini. Di Surabaya, ternyata
Inggris telah menempatkan markasnya di gedung-gedung di tengah kota Surabaya
sebagai pusatnya.
Pada 29 Oktober 1949 di Kompleks Darmo, Kapten Flower yang telah mengibarkan
bendera putih, masih ditembaki oleh pihak Indonesia; untung dia selamat, tidak
terkena tembakan. Kapten Flower, yang ternyata berkebangsaan Australia,
kemudian diterima oleh Kolonel dr. Wiliater Hutagalung. Hutagalung mem-fait
accompli, dengan menyatakan: accept your unconditional surrender! dan
mengatakan bahwa pihak Indonesia akan membawa tentara Inggris setelah dilucuti kembali
ke kapal mereka di pelabuhan.
Pimpinan Republik Indonesia di Jakarta pada waktu itu tidak menghendaki adanya
konfrontasi bersenjata melawan Inggris, apalagi melawan Sekutu. Pada 29 Oktober
sore hari, Presiden Sukarno beserta Wakil Presiden M. Hatta dan Menteri
Penerangan Amir Syarifuddin Harahap, tiba di Surabaya dengan menumpang pesawat
militer yang disediakan oleh Inggris. Segera hari itu juga Presiden Sukarno
bertemu dengan Mallaby di gubernuran. Malam itu dicapai kesepakatan yang
dituangkan dalam Armistic Agreement regarding the Surabaya-incident; a
provisional agreement between President Soekarno of the Republic Indonesia and
Brigadier Mallaby, concluded on the 29th October 1945. Isinya antara lain:
Perjanjian diadakan antara Panglima Tentara Pendudukan Surabaya dengan PYM Ir.
Sukarno, Presiden Republik Indonesia untuk mempertahankan ketenteraman kota
Surabaya. Untuk menenteramkan, diadakan perdamaian: ialah tembakan-tembakan
dari kedua pihak harus diberhentikan.
Syarat-syarat termasuk dalam surat selebaran yang disebarkan oleh sebuah
pesawat terbang tempo hari (yang dimaksud adalah pada tanggal 27 Oktober 1945)
akan diperundingkan antara PYM Ir Sukarno dengan Panglima Tertinggi Tentara
pendudukan seluruh Jawa pada tanggal 30 Oktober besok.
Mayjen Hawthorn, Panglima Divisi 23, tiba tanggal 30 Oktober pagi hari.
Perundingan yang juga dilakukan di gubernuran segera dimulai antara Presiden
Sukarno dengan Hawthorn. Dari pihak Indonesia, tuntutan utama adalah pencabutan
butir dalam ultimatum/pamflet tanggal 27 Oktober, yaitu penyerahan senjata
kepada tentara Sekutu; sedangkan tentara Sekutu menolak memberikan senjata
mereka kepada pihak Indonesia. Perundingan alot yang dimulai sejak pagi hari
baru berakhir sekitar pukul 13.00, menghasilkan kesepakatan, yang kemudian
dikenal sebagai kesepakatan Sukarno Hawthorn.
Isi kesepakatan antara lain:
The Proclamation previously scatttered by aircraft shall be annulled; that
is to say, the disarmament of the TKR and the Pemudas shall not be carried out.
The Allied forces shall not guard the city.
The TKR shall be recognized; its continued use of arms shall be allowed.
Yang terpenting bagi pihak Indonesia dalam kesepakatan ini adalah pencabutan
perintah melalui pamflet tertanggal 27 Oktober dan pengakuan terhadap TKR yang
bersenjata.[Bersambung]
Penulis Merupakan Sejarawan; Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB)
Sumber : https://rmol.id/politik/read/2017/11/08/314345/latar-belakang-akibat-dan-pengaruhnya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar